Tampilkan postingan dengan label Amalan Ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amalan Ibadah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Januari 2016

Beberapa Masalah Yang Sangat Penting Seputar Talak

Tidak ada komentar:

 cerai

1) Talak yang dijatuhkan suami kepada istrinya yang sedang haid atau suci tapi telah dicampurinya dalam masa suci tersebut.

Talak yang dijatuhkan dalam dua keadaan ini – menurut istilah para ulama – adalah talak bid’iy (talak yang bersifat bid’ah/tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam), karena talak yang sesuai dengan sunnah adalah mentalak istri sewaktu istri dalam keadaan hamil yang telah jelas kehamilannya atau dalam keadaan suci yang belum dicampuri.

Ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
{يا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُم}
“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertaqwalah kepada Allah Rabbmu”.

Imam Ibnu Katsir berkata: “Berdasarkan ayat ini para ulama ahli fikih mengambil (kesimpulan tentang) hukum talak dan mereka membaginya menjadi dua, (yaitu) talak sunnah dan talak bid’ah.
  • Talak sunnah artinya seorang suami yang mentalak istrinya dalam keadaan istrinya suci (tidak sedang haidh) dan belum dicampurinya atau dalam keadaan hamil yang telah jelas kehamilannya.
  • Talak bid’ah artinya seorang suami yang mentalak istrinya dalam keadaan haidh atau dalam keadaan suci (tapi) sudah dicampurinya, dan dia tidak mengetahui apakah istrinya hamil atau tidak.
  • Ada talak yang ketiga, bukan talak sunnah dan bukan talak bid’ah, yaitu mentalak istri yang masih kecil (belum dewasa/belum haidh), istri yang sudah menopause (tidak haidh lagi), atau istri yang belum dicampuri”1.
Dalil tentang hal ini adalah sabda RasulullahShallallahu’alaihi Wasallam kepada Umar bin al-Khaththab radhiallahu’anhu yang mengadukan anaknya, Ibnu Umar radhiallahu’anhu ketika dia mentalak istrinya yang sedang haidh, maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Perintahkanlah kepada Ibnu Umar untuk merujuk istrinya, kemudian mentalaknya dalam keadaan suci (yang belum dicampuri) atau hamil”2.

Dalam sebuah atsar yang shahih dari Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu (riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Jarir dalam tafsirnya) dan Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu (riwayat ad-Daraquthni dan Ibnu Jarir), ketika menafsirkan ayat di atas, mereka berdua berkata: “(Talaklah istrimu dalam keadaan) suci yang belum dicampuri”3.

Jika seorang suami telah terlanjur melakukan Talak bid’ah seperti yang dijelaskan di atas maka kewajibannya adalah segera meminta ampun dan bertaubat kepada Allah Ta’ala dari perbuatan tersebut.

2) Talak bid’ah yang telah terlanjur dijatuhkan apakah dihitung/dihukumi jatuh sebagai Talak atau tidak?

Dalam masalah ini, ada dua pendapat di kalangan para ulama:
  1. Jumhur (mayoritas) ulama (termasuk empat imam mazhab) mengatakan bahwa talak tersebut jatuh (dihitung), pendapat inilah yang dikuatkan oleh Imam an-Nawawi, al-Hafizh Ibnu hajar al-‘Asqalani dan para ulama lainnya.
  2. Pendapat kedua yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Hazm, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Imam Ibnul Qayyim dan para ulama lainnya; bahwa talak tersebut tidak jatuh (tidak dihitung).
Pendapat yang terkuat dari dua pendapat tersebut di atas – wallahu a’lam – adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa talak tersebut jatuh (dihitung), karena dalil-dalil yang mendukung pendapat ini lebih kuat dan lebih jelas dari segi kandungan lafazhnya.

Dalil-dalil tersebut diantaranya:
1- Hadits Umar bin al-Khaththab yang kami nukilkan di atas, pada beberapa jalur dari riwayat hadits ini, yaitu riwayat Nafi’ bahwa RasulullahShallallahu’alaihi Wasallam sendiri yang menghitung (menjatuhkan) talak tersebut satu talak. Dan dalam riwayat Salim bin Abdullah bin Umar, Yunus bin Jubair, Sa’id bin Jubair dan Nafi’ bahwa Ibnu umar radhiallahu’anhu berkata: “(Talak tersebut) dihitung bagiku satu talak”4.
Adapun pendapat kedua yang mengatakan bahwa talak tersebut tidak jatuh, juga berdalil dengan hadits Umar di atas, yang pada beberapa jalur dari riwayat hadits tersebut, yaitu riwayat Abu az-Zubair, Ibnu Umar radhiallahu’anhu berkata: “Dan RasulullahShallallahu’alaihi Wasallam tidak memandang (menganggap) talak tersebut sebagai sesuatu (yang diperhitungkan)”.

Riwayat ini diperselisihkan keshahihannya oleh para ulama, Imam Abu Dawud, Ibnu ‘Abdil Barr, al-Khaththabi dan para ulama lainnya menghukumi bahwa riwayat ini mungkar (syadz/ganjil/nyeleneh), karena Abu az-Zubair menyendiri dalam meriwayatkan lafadz ini dan menyelisihi perawi-perawi lain yang lebih kuat dan lebih tsiqah (terpercaya).

Akan tetapi para ulama lainnya – seperti al-Hafizh Ibnu Hajar dan Syaikh al-Albani – menghukumi bahwa hadits ini shahih karena Abu az-Zubair meriwayatkannya dengan sanad yang bersambung (tidak mentadlis) dan beliau tidak menyendiri karena didukung oleh riwayat Sa’id bin Jubair yang semakna dengannya.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhgu4QsUq4JVJUVr6auuR_7M8Wrh77oa0OAdz4Kf66y2r8b8uYwcWeN8K9WL8q8nQIy0TL-f_cakF-kSNd0H-O0dM58id_tBV4siPnh1qPm3XMgEyCYBno4U2TeuiqPQ2uF-JadNrJZOsE7/s1600/cerai.jpg

Meskipun demikian, tetap saja riwayat-riwayat hadits ini yang mendukung pendapat jumhur ulama (bahwa talak tersebut jatuh/diperhitungkan) lebih rajih (kuat) dari pada riwayat-riwayat yang mendukung pendapat kedua – sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh al-Albani – karena jalan (jalur)nya lebih banyak, yaitu enam jalur, tiga diantaranya marfu’ (bersumber dari ucapan/perbuatan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam), dan tiga jalur lainnya mauquf (ucapan/perbuatan sahabat, dalam hal ini Ibnu Umar radhiallahu’anhu) dan tiga riwayat mauquf ini hukumnya sama dengan riwayat marfu’ karena di sini Ibnu Umar mengamalkan perintah RasulullahShallallahu’alaihi Wasallam, bukan dengan pendapatnya sendiri. 

Dan semua riwayat ini shahih kecuali satu diantara tiga riwayat yang marfu’. Adapun riwayat-riwayat yang mendukung pendapat kedua, hanya tiga jalur, semuanya marfu’ dan satu diantaranya lemah sanadnya.
2- Jika ditinjau dari segi lafazh (teks) riwayat-riwayat yang mendukung pendapat jumhur ulama tersebut, maka kita dapati riwayat-riwayat tersebut secara jelas dan gamblang menunjukkan benarnya pendapat tersebut, misalnya lafazh riwayat Nafi’: “Maka Umar radhiallahu’anhu datang menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan menyampaikan hal tersebut, lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun menjatuhkan (menghitung) talak tersebut satu talak”.

Kemudian Ibnu Umar radhiallahu’anhu sendiri mengamalkan perintah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam di atas dan menghitungnya satu talak.

Adapun lafazh riwayat-riwayat yang mendukung pendapat kedua, lafazh tersebut tidak jelas mendukung pendapat ini, karena lafazh tersebut bisa dan mungkin ditafsirkan dalam beberapa makna yang berbeda.
Misalnya ucapan Ibnu Umar radhiallahu’anhu dalam riwayat Ibnu Az Zubair: 

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak memandang (menganggap) talak tersebut sesuatu”. Kata شيئاً“” (sesuatu) di sini bisa ditafsirkan dengan sesuatu yang diperhitungkan, dan juga bisa ditafsirkan dengan sesuatu yang benar/boleh karena tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, sebagaimana yang ditafsirkan oleh Imam Asy Syafi’i, Ibnu ‘abdil Barr dan Al Khaththabi.

3- Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam hadits Umar radhiallahu’anhu di atas: “Perintahkanlah kepada Ibnu Umar untuk merujuk istrinya”, menunjukkan bahwa talak tersebut jatuh, karena kata muraja’ah (merujuk) dalam syari’at maknanya adalah kembalinya suami kepada istrinya setelah terjadi (jatuh) talak yang diperhitungkan.

Kesimpulannya, pendapat yang terkuat dalam masalah jatuh/tidaknya talak yang dilakukan ketika istri dalam keadaan haidh atau suci yang telah dikumpuli/dicampuri adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa talak tersebut jatuh dan diperhitungkan berdasarkan dalil-dalil tersebut di atas, wallahu a’lam.

3) Hukum Talak yang dijatuhkan oleh suami dalam keadaan marah
Masalah ini telah dibahas panjang lebar oleh para ulama, sampai-sampai Imam Ibnul Qayyim menulis satu kitab khusus tentang masalah ini, karena berhubungan dengan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
(( لاَ طَلاَقَ وَلاَ عِتَاقَ فِيْ إِغْلاَقٍ ))
“Tidak ada Talak dan membebaskan budak dalam keadaan (hati/akal) tertutup”5.
Imam Ahmad dan Abu Dawud menafsirkan hadits ini bahwa yang dimaksud dengan tertutupnya (hati/akal) adalah dalam keadaan marah6.

Imam Ibnul Qayyim7 menukil ucapan Ibnu Taimiyyah bahwa makna tertutup yang sebenarnya adalah tertutupnya hati (akal) seseorang sehingga ucapannya tidak terkontrol atau (keluar) tanpa disadarinya. Kemudian Ibnu Taimiyyah berkata: “Termasuk dalam hadits ini adalah talak yang dilakukan oleh orang yang dipaksa, orang gila, orang yang hilang akalnya karena mabuk atau marah, dan orang yang tidak terkontrol atau tidak sadar terhadap apa yang diucapkannya.

Kemudian Ibnul Qayyim menyebutkan kesimpulan dan perincian yang sangat baik8 tentang hukum talak dalam keadaan marah, dengan membagi kemarahan menjadi tiga macam:
  1. Kemarahan yang menghilangkan (menguasai dan menutupi) akal seseorang sehingga dia tidak menyadari apa yang diucapkannya, maka hukum talak yang dilakukan dalam keadaan ini adalah talak tersebut tidak diperhitungkan (tidak jatuh) berdasarkan kesepakatan para ulama.
  2. Kemarahan yang baru (awal) muncul (belum begitu memuncak) sehingga tidak menghalangi seseorang untuk menyadari dan mengontrol ucapannya, maka hukum talak yang dilakukan dalam keadaan ini adalah talak tersebut diperhitungkan (jatuh) berdasarkan kesepakatan para ulama.
  3. Kemarahan yang besar dan memuncak akan tetapi tidak sampai menutupi akal seseorang secara total meskipun kemarahan tersebut menghalangi niatnya (tujuannya), yang mana setelah kemarahan tersebut hilang dia akan menyesali kelalaiannya tersebut, maka dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat, dan (pendapat yang mengatakan) tidak jatuhnya talak yang dilakukan dalam keadaan ini adalah (pendapat yang) kuat dan tepat.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
***
Referensi:
  • Shahih Imam al-Bukhari bersama Fathul Baari tulisan Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani
  • Shahih Muslim bersama Syarah Imam an-Nawawi
  • Zaadul ma’ad, karya Imam Ibnul Qayyim
  • Subulus salam, karya Imam ash-Shan’ani
  • Nailul authar, karya Imam asy-Syaukani
  • Irwa ul-galil, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, Lc., MA.

Sumber

Tafsir Surat Iqro’ (1): Wahai Para Muslim Bacalah dan Bacalah!

Tidak ada komentar:

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBIzFSmlATMFn1m1FQdyHUiCzjTnY_W04M8qNnTUIXdRvL-wOYsKEUBq57Auf_dqoKQ48oD_XYIwiEJe0Tny019hUcd5HWNklECtyGA3fYJ08hB2fw56Ln7hHWjLbTZVVtyZCN-GEqWEU-/s1600/membaca+alquran.jpg

Surat Iqro’ atau surat Al ‘Alaq adalah surat yang pertama kali diturunkan pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Surat tersebut adalah surat Makkiyyah. Di awal-awal surat berisi perintah membaca. Yang dengan membaca dapat diketahui perintah dan larangan Allah. Jadi manusia bukanlah dicipta begitu saja di dunia, namun ia juga diperintah dan dilarang. Itulah urgensi membaca, maka bacalah, bacalah!
Allah Ta’ala berfirman,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al ‘Alaq: 1-5).

Bacalah! Bacalah!
Surat ini adalah yang pertama kali turun pada Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Surat tersebut turun di awal-awal kenabian. Ketika itu beliau tidak tahu tulis menulis dan tidak mengerti tentang iman. Lantas Jibril datang dengan membawa risalah atau wahyu. Lalu Jibril memerintahkan nabi untuk membacanya. Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- enggan. Beliau berkata,

مَا أَنَا بِقَارِئٍ
“Aku tidak bisa membaca.” (HR. Bukhari no. 3). Beliau terus mengatakan seperti itu sampai akhirnya beliau membacanya. Kemudian turunlah ayat,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan“. Yang dimaksud menciptakan di sini adalah menciptakan makhluk secara umum. Tetapi yang dimaksudkan secara khusus di sini adalah manusia. Manusia diciptakan dari segumpal darah sebagaimana disebut dalam ayat selanjutnya,

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”

Manusia bukan hanya dicipta, namun ia juga diperintah dan dilarang. Untuk menjelaskan perintah dan larangan ini diutuslah Rasul dan diturunkanlah Al Kitab (Al Qur’an). Oleh karena itu, setelah menceritakan perintah untuk membaca disebutkan mengenai penciptaan manusia.

Bentuk Kasih Sayang Allah: Diajarkan Ilmu
Setelah itu, Allah memerintahkan,
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ
“Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah.” Disebutkan bahwa Allah memiliki sifat pemurah yang luas dan karunianya yang besar pada makhluk-Nya. Di antara bentuk karunia Allah pada manusia -kata Syaikh As Sa’di rahimahullah– adalah Dia mengajarkan ilmu pada manusia sebagaimana disebutkan dalam ayat selanjutnya,
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
“Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Kata Syaikh As Sa’di rahimahullah, “Manusia dikeluarkan dari perut ibunya ketika lahir tidak mengetahui apa-apa. Lalu Allah menjadikan baginya penglihatan dan pendengaran serta hati sebagai jalan untuk mendapatkan ilmu.” (Taisiri Al Karimir Rahman, hal. 930).

Allah mengajarkan pada manusia Al Qur’an dan mengajarkan padanya hikmah, yaitu ilmu. Allah mengajarkannya dengan qolam (pena) yang bisa membuat ilmunya semakin lekat. Allah pun mengutus Rasul supaya bisa menjelaskan pada mereka. Alhamdulillah, atas berbagai nikmat ini yang sulit dibalas dan disyukuri.

http://duniaperpustakaan.com/wp-content/uploads/2015/07/reading.jpg

Al Qur’an Turun Sebagai Kasih Sayang pada Manusia
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Al Qur’an yang pertama kali turun adalah ayat-ayat ini. Inilah rahmat dan nikmat pertama yang Allah berikan pada para hamba. Dalam awal surat tersebut terdapat pelajaran bahwa manusia pertama tercipta dari ‘alaqoh (segumpal darah). Di antara bentuk kasih sayang Allah adalah ia mengajarkan pada manusia apa yang tidak mereka ketahui.”

Keutamaan Ilmu
Ibnu Katsir rahimahullah juga berkata, “Seseorang itu akan semakin mulia dengan ilmu diin yang ia miliki. Ilmu itulah yang membedakan bapak manusia, yaitu Adam dengan para malaikat. Ilmu ini terkadang di pikiran. Ilmu juga kadang di lisan. Ilmu juga terkadang di dalam tulisan tangan untuk menyalurkan apa yang dalam pikiran, lisan, maupun yang tergambarkan di pikiran.”

Keutamaan Selalu Mengikat Ilmu dengan Tulisan
Dalam atsar disebutkan,
قيدوا العلم بالكتابة
“Ikatlah ilmu dengan tulisan.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrok 1: 106. Dihasankan oleh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 2026).

Dalam atsar lainnya juga disebutkan,
مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ وَرَثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَكُنْ يَعْلَمُ
“Barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang ia ketahui, maka Allah akan memberikan dia ilmu yang ia tidak ketahui.” (HR. Abu Nu’aim dalam Hilyatul Awliya’, 10: 15. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini maudhu’ atau palsu. Lihat As Silsilah Adh Dho’ifah no. 422)

Referensi:
Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H.
Taisir Al Karimir Rahman fii Tafsiril Kalamil Mannan, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H.

Sumber

Sunnah Rasulullah Memakai Pakaian Warna Putih

Tidak ada komentar:

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdfXysPcJF43YQyhBp1O2SfCS-FJMKPNlkYabHBlpaOOc_H4VupRSJtzIGRycRc2eSJ9pv36AfB9Tc1-5IVYmTZ1bCimsyi3eXkE3a7VKyfFswh042J6priAZU8jCfcFbN16wCU5aTwTxb/s640/mencuci-490x326.jpg

Imam Nawawi rahimahullah dalam Riyadhus Sholihin berkata, “Disunnahkan memakai pakaian berwarna putih.” Pakaian warna putih itu lebih bersih dan lebih bercahaya. Itulah sebabnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan memakai pakaian warna putih dibanding warna lainnya.

Di antara hadits yang Imam Nawawi maksudkan adalah,

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ
“Pakailah oleh kalian pakaian yang putih karena itu termasuk pakaian yang paling baik. Dan berilah kafan pada orang mati di antara kalian dengan kain warna putih.” (HR. Abu Daud no. 4061, Tirmidzi no. 994 dan Ibnu Majah no. 3566. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْبَسُوا الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا أَطْهَرُ وَأَطْيَبُ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ
“Kenakanlah pakaian warna putih karena pakaian tersebut lebih bersih dan paling baik. Kafanilah pula orang yang mati di antara kalian dengan kain putih.” (HR. Tirmidzi no. 2810 dan Ibnu Majah no. 3567. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

http://statis.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2014/03/shalat-berjamaah-310x165.jpg

Kata Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, benarlah apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pakaian warna putih adalah pakaian yang lebih baik dari yang lain. Pakaian putih lebih bercahaya. Kalau pakaian tersebut terkena kotoran, maka begitu nampak, sehingga segera pakaian tersebut dicuci. Adapun pakaian warna lain, kotoran pada permukaannya tidak begitu nampak. Seseorang tidak tahu kalau pakaian tersebut kotor. Jika dicuci pun tidak nampak bersihnya. Makanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya pakaian warna putih adalah pakaian yang terbaik, dan kafanilah pula salah seorang mayit di antara kalian dengan kain warna putih.”

Juga Syaikh rahimahullah menerangkan bahwa yang dimaksud pakaian putih adalah pakaian atas dan bawah (kemeja maupun celana atau sarung). Yang terbaik adalah warna putih. Warna tersebut lebih baik. Akan tetapi jika seseorang memakai warna lain tidaklah mengapa asal tidak menyerupai warna pakaian wanita. Jika itu adalah warna pakaian wanita, maka tidak boleh pria mengenakannya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan sebaliknya. Begitu pula dipersyaratkan warnanya bukanlah merah polos. Namun jika ada warna merah, juga putih, maka tidaklah masalah. Demikian penyampaian Syaikh dalam Syarh Riyadhis Sholihin, 4: 270.

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber

Sembuhkan Luka Hati dengan Menyimak Bacaan Al-Quran

Tidak ada komentar:

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJd8KambT4tgWawWIN4P93L9hVgLcGbbwQoSfIIk7K6A-3OqVuCk8ysHn9n_IBJWkeD2S8A1jDAZCcD6LF0jwnbs7y24wLlgj0N_uhB5U1mKfJ_Fx0fQLO18k2VITjqh-plKLFKWRQjE7M/s1600/quran.jpg

MENYIMAK kandungan al-Quran adalah cara penyembuhan yang agung dan obat yang mujarab. Allah telah berfirman,

“Dan, Kami turunkan dari al-Quran sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra : 282)

Adapun cara penyembuhan tersebut adalah dengan menyimak dan memikirkan ayat-ayat-Nya. Begitu pula yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Beliau menyimak kitab Allah dan membacanya berulangkali, tatkala beliau sedang shalat malam.

Pada suatu malam beliau pernah mengulang-ulang satu ayat saja dari kitab Allah tatkala beliau sedang shalat, dan beliau tidak pernah beralih dari ayat tersebut hingga pagi hari, yaitu firman Allah,

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Maidah : 118)

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGvmlI7QNFg2LnYOKFwvujOJeug7KAd97-HYYz2cWrjVw-N_dYBn4UzQYj-ZYsTMTnjaI1vaVmImV7O09YzCwooLfmfeXWoiuBifgPY2Mng1wb3I3ZJXlErw2ZGgOG1JZHf202X0nHIRg/s1600/Hukum+bersetubuh+sambil+mendengarkan+Al-Quran.jpg

Rasulullah SAW selalu menyimak isi al-Quran. Begitu pun dengan sahabat-sahabatnya. Abu bakar yang sangat lembut hatinya selalu menangis ketika ada ayat yang menyentuh hatinya. Bahkan Umar bin Khaththab pernah sakita karena membaca ayat,

“Sesungguhya adzab Rabbmu pasti terjadi, tidak seorang pun yang dapat menolaknya.”

Ibnu Qayyim menyaripatikan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang Muslim untuk menyembuhkan kekerasan hatinya melalui al-Quran dengan berkata,

“Caranya ada dua macam: pertama, engkau harus mengalihkan hatimu dari dunia, lalu engkau harus menempatkannya di akhirat. Kedua, sesudah itu engkau harus menghadapkan semua hatimu kepada pengertian-pengertian al-Quran, memikirkan dan memahami apa yang dimaksudkan dan mengapa ia diturunkan. Engkau harus mengamati semua ayat-ayatNya. Jika suatu ayat diturunkan untuk mengobati hati, maka dengan ijin Allah pun hati itu akan sembuh.”

Sumber

Senin, 18 Januari 2016

Jihad, Ini Etika Dan Aturannya

Tidak ada komentar:


http://cdn.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2013/11/10/275691/670x335/pertempuran-surabaya-dan-fatwa-jihad-nu-lawan-tentara-inggris.jpg

APAKAH Anda ingin berjihad? Untuk melakukan jihad kita tak bisa sembarangan melakukannya. Sebab Islam telah mengatur segala kehidupan manusia, termasuk dalam hal jihad. Dan dalam jihad ada etika-etikanya. Apa sajakah itu?

Jihad mempunyai sejumlah etika yang harus diperhatikan, karena etika-etika tersebut adalah pengantar kepada kemenangan. Etika-etika jihad adalah sebagai berikut:

1. Tidak menyebarkan rahasia pasukan dan rencana-rencana perang, karena jika Rasulullah hendak melakukan penyerangan, beliau merahasiakannya seperti disebutkan dalam hadits shahih.

2. Menggunakan kode, simbol, dan isyarat sesama anggota pasukan, agar dengan itu sebagian dari mereka mengenali sebagian lainnya jika mereka bercampur-baur dengan musuh atau dekat dengan tempat musuh, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika kalian disergap musuh pada waktu malam, maka katakan, ‘Hammim, mereka tidak ditolong.’ Kode ekspedisi perang yang berangkat bersama Abu Bakar adalah amit (matilah), amit (matilah),” (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan lain-lain. Hadits ini hadits shahih).

3. Diam ketika memasuki kencah perang, karena gaduh dan teriakan menyebabkan kegagalan, menyedot kekuatan, dan mengacaukan pikiran. Abu Daud meriwayatkan, sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menyukai suara ketika memasuki kancah perang.

4. Memilih lokasi perang yang strategis, menertibkan pasukan, dan memilih timing yang tepat untuk melakukan penyerangan terhadap musuh, karena di antara petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam perang ialah memilih lokasi dan timing yang tepat untuk melancarkan serangan. (Diriwayatkan At-Tirmidzi)

5. Mengajak orang-orang kafir kepada Islam, atau menyerahkan diri dengan membayar jizyah sebelum mengumumkan perang terhadap mereka, atau sebelum menyerang mereka. Jika mereka menolak masuk Islam dan tidak menyerah dengan membayar jizyah, mereka diperangi, karena jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirim salah satu ekspedisi perang, atau pasukan, beliau menasihati komandan dan anak buahnya agar bertakwa.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika engkau bertemu dengan musuhmu dari orang-orang musyrikin, ajaklah mereka kepada salah satu dari tiga hal dan jika mereka memenuhi ajakanmu, terimalah dan dia dan tahanlah dirimu dari mereka. Ajaklah mereka kepada Islam, jika mereka memenuhi seruanmu tersebut, terimalah dirimu dan tahanlah dirimu dari mereka. Jika mereka menolak ajakanmu, ajaklah mereka membayar jizyah, jika mereka memenuhi ajakanmu, terimalah mereka dan tahanlah diri dari mereka. Jika mereka menolak ajakanmu, mintalah tolong kepada Allah dan perangi mereka,” (Diriwayatkan Muslim).

http://kiblat.net/site/wp-content/uploads/2013/07/jihad-suriah.jpg

6. Tidak mencuri harta rampasan perang, tidak membunuh wanita-wanita, anak-anak, orang tua, dan para pendeta jika mereka tidak ikut perang. Jika mereka ikut perang, mereka boleh dibunuh, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada para komandan perangnya, “Berangkatlah kalian kepada Allah, dengan Allah, dan di atas agama Rasulullah. Janganlah kalian membunuh orang tua, bayi, anak kecil, dan wanita. Janganlah kalian mencuri harta rampasan, satukan harta rampasan kalian, perbaikilah harta kalian, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang berbuat baik,” (Diriwayatkan Abu Daud).

7. Tidak berkhianat terhadap orang yang kehidupannya dilindungi seorang Muslim, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang berkhianat itu panjinya dipasang untuknya pada hari kiamat, kemudian dikatakan, “Ini pengkhianatan Fulan bin Fulan,” (Muttafaq Alaih).

8. Tidak membakar musuh dengan api, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika kalian menemukan si Fulan, bunuhlah dia dan jangan bakar dia dengan api, karena siapapun tidak boleh menyiksa dengan api kecuali pemilik api (Allah),” (Diriwayatkan Al-Bukhari).

9. Tidak mencincang-cincang musuh yang telah tewas, karena Imran bin Hushain Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menganjurkan kita bersedekah dan melarang kita mencincang-cincang,” (Diriwayatkan Abu Daud dengan sanad shahih).
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang yang paling baik pembunuhannya ialah orang-orang beriman,” (Diriwayatkan Abu Daud dengan sanad yang baik).

10. Berdoa meminta kemenangan atas musuh, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdoa setelah melakukan mobilisasi perang, “Ya Allah, Dzat yang menurunkan kitab, menjalankan awan, dan mengalahkan musuh-musuh, hancurkan mereka, dan beri kami kemenangan atas mereka,” (Muttafaq Alaih).
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda, “Dua doa yang tidak ditolak atau jarang sekali ditolak, doa setelah adzan, dan doa ketika perang pada saat sebagian manusia bertemu dengan sebagian yang lain,” (Diriwayatkan Abu Daud dengan sanad shahih).

Sumber

10 Amalan Agar Rezeki Selalu Melekat

Tidak ada komentar:
Setiap hari manusia berlomba-lomba mencari rezeki untuk bisa melanjutkan hidup sehari-hari. Masing-masing orang sudah ditetapkan kadar rezekinya oleh Allah SWT.  Ada yang sudah bekerja begitu keras, namun hasilnya tidak sesuai harapan. Namun ada juga yang usahanya biasa-biasa saja, diberikan rezeki yang berlimpah.

Ternyata kadar rezeki tidak hanya urusan keras atau tidaknya usaha seseorang dalam mencarinya. Namun ada amalan tertentu yang membuat rezeki selalu nempel dan melekat dengan kita.   Amalan ini jika rutin dikerjakan, akan membuat rezeki selalu datang menghampiri tanpa henti dan tidak disangka-sangka. Apa saja amalan tersebut? Berikut ringkasannya.


1. Taqwa
Amalan pertama agar rezeki selalu nempel adalah berlaku taqwa kepada Allah. Taqwa merupakan tindakan memelihara diri dari siksa Allah dengan cara menjalankan segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.  Hal ini sudah dijelaskan oleh Allah SWT dalam Alquran. Bahwa siapa manusia yang bertaqwa akan diberi rezeki dari berbagai arah yang tidak disangka-sangka.

 “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya,” (QS ath-Thalaq: 2-3).

2. Tawakal
Tawakal juga menjadi jalan untuk menggugah Allah memberikan rezeki kepada manusia. Tawakal memiliki makna berserah diri sepenuhnya kepada Allah swt dalam menghadapi menunggu hasil dari suatu usaha atau pekerjaan. Namun tentu saja, tawakal harus disertai kerja keras sebelumnya. Setelah bekerja dengan sungguh-sungguh, barulah kita menyerahkan hasilnya kepada Allah, serta berprasangka baik kepada-Nya. Bahwa seluruh usaha yang kita kerjakan, sebenarnya tidak ada yang sia-sia.

Nabi s.a.w. bersabda: “Seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, nescaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki, ia pagi hari lapar dan petang hari telah kenyang.” (Riwayat Ahmad, at-Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Hakim dari Umar bin al-Khattab r.a.)

3. Salat Dhuha
Selain melaksanakan salat wajib, Allah SWT juga menyediakan salat sunah yang bisa dilakukan untuk hajat tertentu, termasuk mendatangkan rezeki . Salah satu salat yang dapat mendekatkan rezeki adalah Salat Duha. Salat ini dikerjakan pada waktu Duha, yakni menjelang matahari naik pada pagi hari sekita pukul 08.00 WIB sampai pukul 11.00 WIB.

Firman Allah dalam hadis qudsi: “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (solat Dhuha), nanti pasti akan Aku cukupkan keperluanmu pada petang harinya." (Riwayat al-Hakim dan Thabrani)

4.  Istighfar
Rezeki terkadang tertutup karena dosa-dosa yang sudah kita lakukan kepada Allah. Jadi untuk membukanya kembali, manusia harus bertaubat dan memohon ampun kepada sang maha pengampun. Caranya adalah dengan banyak membaca istigfar setiap hari. Mohon lah keampunan Allah dengan sungguh-sungguh dengan bacaan sitigfar 100 kali setiap hari. Jika lebih, maka rezeki yang akan datang juga akan lebih pula. Karena ini adalah nyata yang dijanjikan Allah, kepada hamba-Nya yang bertaubat.

"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirim-kan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu ke-bun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai" (QS Nuh: 10-12).

“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan, dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka,” (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan al-Hakim).

5. Silaturahmi
Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa dengan menyambung tali silaturahmi maka rezeki tidak akan terputus. Dan benar, lihat saja mereka yang memiliki banyak koneksi dan selalu menjaganya? Pasti orang-orang inilah yang selalu dicari ketika ada pekerjaan yang sesuai. Mereka direkomendasikan oleh orang lain yang mengenalnya. Itulah mengapa kita sering mendengar ‘rezeki kita tidak hanya datang karena kita, namun juga karena orang lain’

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaknyalah ia menyambung (tali) silaturahim.”

6. Sedekah
Sedekah menjadi cara yang paling sering dilakukan orang untuk memancing rezeki. Tidak dipungkiri bahwa Allah SWT menjanjikan balasan 10 kali lipat kepada mereka yang menyedekahkan rezekinya kepada orang lain yang membutuhkan. Namun tanamkanlah dalam hati bahwa bersedekahlah dalam rangka bersyukur, berbagi rejeki & kebahagiaan, bukan dalam rangka mencari rejeki.

Sabda Nabi s.a.w.: “Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan kerana orang-orang lemah di kalangan kamu.” (Riwayat Bukhari)
 
7.  Berbuat Kebaikan
Berbuat kebaikan kepada orang lain lain juga menjadi salah satu amalan yang membuat rezeki semakin nempel. Hal ini sudah dijanjikan Allah dalam Alquran serta dijelaskan dalam sabda Rasulullah SAW.

"Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan." (QS Alqashash:84)

Nabi bersabda: Sesungguhnya Allah tdk akan zalim pd hambanya yg berbuat kebaikan.Dia akan dibalas dengan diberi rezeki di dunia dan akan dibalas dengan pahala di akhirat.(HR. Ahmad)

8. Berdagang
Saat ini orang berlomba-lomba mencari pekerjaan dengan masuk ke perusahaan besar. Memang hal ini bukan merupakan kesalahan. Namun salah satu pekerjaan yang dapat mengawetkan rezeki adalah dengan berdagang. Hal ini dijelaskan Nabi Muhammad SAW dalam hadist riwayat Ahmad.

Dan Nabi SAW bersabda: “Berniagalah, karena sembilan dari sepuluh pintu rezeki itu ada dalam perniagaan” (Riwayat Ahmad)

9. Bangun Pagi
Kita sering mendengar ucapan orang tua dulu, “Ayo bangun, udah pagi, nanti rezekinya dipatok ayam lho”. Ternyata ini bukanlah isapan jempol belaka. Karena saat pagi, Allah SWT melalui malaikat-malaikat-Nya menyebarkan rezeki pada pagi hari kepada manusia yang sudah bangun. Sehingga siapa yang terlewat tidur hingga bangun siang, maka tidak akan mendapatkan rezeki yang disebar pagi hari tersebut.

Fatimah (putri Rasulullah) berkata bahwa saat Rasulullah ( S.A.W.) melihatnya masih terlentang di tempat tidurnya di pagi hari, beliau (S.A.W.) mengatakan kepadanya, "Putriku, bangunlah dan saksikanlah kemurahan-hati Tuhanmu, dan janganlah menjadi seperti kebanyakan orang. Allah membagikan rezeki setiap harinya pada waktu antara mulainya subuh sampai terbitnya matahari. ( H.R. Al-Baihaqi)

Aisyah juga meceritakan sebuah hadits yang hampir sama maknanya, yang mana Rasulullah (S.A.W.) bersabda, "Bangunlah pagi-pagi untuk mencari rezekimu dan melakukan tugasmu, karena hal itu membawa berkah dan kesuksesan. (H.R. At-Tabarani)

10. Bersyukur
Bersyukur adalah cara untuk mendatangkan lebih. Inilah tingkatan keimanan manusia kepada Rabb-nya. Mampukah seseorang bersyukur atas sedikit rezeki yang diberikan Allah atau tidak. Setidaknya, kita tidak hanya memandang rezeki materi yang diberikan Allah dalam bentuk uang. Namun dalam bentuk kesehatan, keluarga yang utuh, tetangga yang baik serta negara yang tidak dalam keadaan perang.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim:7)

Minggu, 17 Januari 2016

Dengan 7 Kalimat Ini, Dosa Sebanyak Buih Lautan akan Diampuni

Tidak ada komentar:
MANUSIA di muka bumi ini tidak akan luput dari dosa. Karena manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Di mana dalam menjalankan kehidupan ini terkadang seseorang tertipu atas keindahan dunia dan permainan di dalamnya. Sehingga, yang baik terlihat buruk dan yang buruk terlihat baik. Itulah mengapa, kita harus senantiasa mendekatkan diri pada Allah, agar dosa-dosa yang menumpuk dapat terkikis habis sebelum kita kembali pada-Nya.

Ada berbagai macam cara untuk senantiasa mendekatkan diri pada Allah. Salah satunya dengan mengamalkan 7 kalimat. Apa sajakah itu?




https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3MAdu5WIu49NU-05CgQ2HHRBoCE4NFKQQr697HWjJuupWFi08XXOHpbNM1BQ8jyWiWvIsy9hLVPlixRHayJ3_VUOeQFWK_Ne2WuR1MYYhk0mXmTCry1wB9hwwKZn2Aep6T3bBu09Uk1E/s1600/150131.jpg


Al Faqih Abu Laits menegaskan, “Siapa pandai memelihara 7 kalimat, berarti mulia di sisi Allah dan para malaikat-Nya, diampuni dosanya oleh Allah sekalipun besar seperti jumpah buih lautan, dan ia memperoleh lezat/ manisnya taat, hidup dan matinya tetap dalam kebaikan, yaitu:

1. Setiap pekerjaan diawali dengan ucapan, “Bismillah (Dengan menyebut Asma Allah).”

2. Setiap pekerjaan dihabisi dengan ucapan, “Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah).”

3. Ketika lisan terlanjur mengucapkan perkataan yang tiada berfaedah, segera beristighfar, berikut, “Astaghfirullah (Aku mohon ampun kepada Allah).”

4. Ketika hendak melakukan suatu pekerjaan di waktu datang/ besok, mengucapkan, “Inshaa Allah (Jika Allah menghendaki).”

5. Ketika menghadapi hal-hal yang tiada mampu menahannya/ yang tidak disukai hatinya, mengucapkan, “Laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adziim (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang luhur lagi Agung).”

6. Ketika tertimpa musibah mengucapkan, “Innaa lillaahi wa inna ilahi raaji’uun (Sungguh, kami adalah kepunyaan Allah dan kepada-Nya pula kami kembali).”

7. Tiada putus-putusnya lisan mengucapkan dua kalimah thayyibah/ dua kalimah syahadat, baik di malam atau pun siang hari.” (Dari Tafsir Hanafi)


Ini dua kalimah thayyibah/ syahadat, “Laa ilaaha illallahu muhammadur rasuulullah (Tiada Tuhan yang lain, kecuali Allah dan Nabi Muhammad adalah Rasul Allah).”

Sumber: Tarjamah Duratun Nasihin/Karya: Ust. Abu H.F. Ramadlan BA/Penerbit: Mahkota Surabaya



Sumber - Republished by (YM) Yes Muslim !
 
back to top