Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Januari 2016

Sikap Uwais Al Qarni ketika Dilempari Anak-anak Kecil

Tidak ada komentar:

 http://muhamadsafei.com/wp-content/uploads/2015/02/Screenshot_74.jpg

UWAIS AL QARNI adalah lelaki shalih yang suka menyendiri. Tidak terlihat oleh khalayak kecuali satu tahun sekali. Ia mengenakan pakaian lusuh, makan dari memungut sisa-sisa makanan.

Keluarga Uwais Al Qarni telah menganggap dirinya gila sedangkan kerabatnya mencemoohnya dan anak-anak kecil melemparinya dengan bebatuan.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg4IQlUKln_MlXqwF8nFO8MkyRncNtBKq-bZ0gUMCovMtPsJ9QjbDihr798xj5427EPiAWAV-8A1kWc_wItMcvc8jmD7lYrVCUOj-tstVXGFxQe8G-UFpt5tO5-bkG_1ai_oZ1yGWoJeDKe/s1600/kisah+Uwais+al-Qarni-mselim3.jpg

Jika ia berjalan melalui sekumpulan anak kecil yang melemparinya, maka ia mengatakan,”Wahai saudara-saudaraku, jika kalian melempariku, lemparilah aku dengan batu-batu kecil hingga tidak membuat aku berdarah, sehingga ketika datang waktu shalat aku tidak bisa bersuci dengan air.” (Al Kawakib Ad Durriyah, 1/212)

Sumber

Dihyah Al-Kalbi, Orang yang Mirip Dengan Penjelmaan Malaikat Jibril

Tidak ada komentar:

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg0hNeCivdvc6bbb31tG6JwkSj6IBA-INmYb-RCAaG9_YBzEoKwO_5gxKFgZFPSTzj5h5n1zY-RB6mlFt4qmI4dixmYNGjpOuv6aBAIaa_IXuMzsLg2yo9FBW7Bt_2m9okmDF9Fm10boY8/s1600/3063719fDlOqUDh.jpg


DIHYAH al Kalbi RA adalah seorang sahabat yang mempunyai wajah, janggut (jenggot), perawakan dan usia yang menyerupai Malaikat Jibril AS saat berwujud sebagai manusia. Usai perang Khandaq, dimana Nabi SAW dan para sahabat beristirahat, datanglah Malaikat Jibril AS dalam ujud manusia menemui Nabi SAW dan berkata, “Apakah engkau telah meletakkan senjata?Jangan demikian! Para malaikat sama sekali belum meletakkan senjata! Keluarlah engkau menuju Bani Quraizhah, dan perangilah mereka!”

Ketika Nabi SAW melewati Bani Ghanm, penduduk sekitar masjid yang dilewati kalau menuju rumah beliau, beliau bertanya tentang siapa yang baru saja lewat, merekapun berkata, “Telah melewati kami, Dihyah bin Kalbi!”

Dalam riwayat lain disebutkan, saat itu Nabi SAW sedang bersama istri beliau, Ummu Salamah RA, Malaikat Jibril datang kepada Nabi SAW dalam wujud manusia. Setelah Malaikat Jibril berlalu, Nabi SAW bertanya kepada istrinya itu tentang siapa tamu yang baru datang, Ummu Salamah menjawab, “Dia adalah komandan tentara, Dihyah…”

Nabi SAW tersenyum dan menjelaskan bahwa tamu tersebut adalah Malaikat Jibril AS.

Inilah kesaksian tentang kesamaan Dihyah al Kalbi dengan penjelmaan Malaikat Jibril sebagai manusia.
Dihyah al Kalbi RA diutus Nabi SAW untuk menemui Kaisar Romawi, Hiraqla (secara umum dikenal dengan nama Hiraklius) dengan membawa suratNabi SAW tentang ajakan untuk masuk Islam. Surat yang dibacakan di dalam majelis Kaisar Hiraqla, juga dihadiri Abu Sufyan dan teman-temannya yang sedang berdagang di Syam, tidak memperoleh tanggapan positif dari pembesar-pembesar Romawi yang hadir. Sedangkan Hiraqla sendiri melihat adanya kebenaran atas apa yang diserukan Rasulullah SAW, apalagi setelah tanya jawabnya yang panjang lebar dengan Abu Sufyan tentang pribadi dan latar belakang kehidupan Nabi SAW.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghOK_2FkZ_5FEYzbzNLvcRHBhDQL28uew6A5QyerwKzG2hjbCadI7INaiFcoN4ZddYJiI6fhkQrBwct_7Wx4hRfx9cIfWd-D1rO4KRT6tndk2arR3YT_UdS9DcLfqBWPZ-XGTguOOdFP55/s640/61.jpg

Hiraqla memanggil Uskup kotaIliya di Syam, Ibnu Nathur, yang biasanya menjadi rujukan dalam soal keagamaan, dan juga mendatangkan Dihyah al Kalbi dalam pertemuan tersebut. Ibnu Nathur ini di samping sebagai uskup, juga sahabat Hiraqla. Setelah mendengar penjelasan Hiraqla dan juga Dihyah, Ibnu Nathur membacakan beberapa ayat-ayat injil, dan akhirnya membenarkan kenabian Nabi Muhammad SAW dan seketika memeluk Islam. Tetapi Hiraqla sendiri tidak mau mengikuti sikap uskup ini walau sebenarnya kebenaran itu makin menguat di hatinya. Tidak ada lain yang menghalanginya memeluk Islam kecuali takut kehilangan kekuasaannya. Bahkan beberapa panglima perangnya sudah mengancam tidak akan mengakui kedudukannya jika ia memenuhi seruan Nabi SAW.

Dihyah al Kalbi sering menemui sang uskup untuk lebih mengenalkan dan mengajarkan Islam. Pada hari ahadnya, sang uskup tidak hadir untuk memberikan ceramah dan nasihat seperti biasanya, padahal orang-orang Romawi yang menjadi jamaahnya telah berkumpul. Begitupun berulang pada beberapa hari ahad berikutnya, sehingga akhirnya orang-orang Romawi mengancam untuk membunuhnya jika tidak keluar.
Sang uskup, Ibnu Nathur menitipkan suratpada Dihyah untuk Nabi SAW tentang keislamannya, dan menyampaikan pada Nabi apa yang dilihatnya. Setelah itu Ibnu Nathur keluar menemui orang-orang Romawi, tidak dengan pakaian gereja kebesaran seperti biasanya, tetapi memakai pakaian putih. Ia mengucapkan syahadat di hadapan mereka sehingga mereka begitu murka dan akhirnya membunuh sang Uskup yang selama ini dipatuhi dan mereka dengar dan patuhi nasehat-nasehatnya.

Dihyah al Kalbi yang menjadi saksi langsung peristiwa mengenaskan tersebut, menceritakan peristiwa itu kepada Nabi SAW sekaligus menyerahkan surat sang Uskup, Ibnu Nathur untuk beliau. Surat tersebut dibacakan untuk Nabi SAW dan mendoakan kebaikan dan keberkahan untuk Ibnu Nathur.

Sumber

Senin, 18 Januari 2016

Sepenggal Kisah Ahnaf bin Qais, Orang Yang Didoakan Oleh Rasulullah

Tidak ada komentar:

 http://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/ilustrasi-_120620214829-515.jpg

AHNAF bin Qais RA adalah seorang lelaki dari Bani Sa’d. Ketika Nabi SAW mengirimkan seorang lelaki dari Bani Laits untuk mengajak kabilah Bani Sa’d untuk memeluk Islam, ia tidak memperoleh sambutan yang diharapkan, tetapi saat itu Ahnaf bin Qais berkata kepada utusan Nabi SAW tersebut, “Sesungguhnya engkau menyeru kami kepada kebaikan, dan memerintahkan kami untuk melakukan hal itu.Apakah beliau juga menyeru kepada kebaikan?”

Utusan Nabi SAW tersebut membenarkannya, dan Ahnaf-pun akhirnya memeluk Islam, walau mungkin ia hanya sendirian saat itu.

Berlalulah waktu, sampai pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Saat itu Ahnaf sedang thawaf di Baitullah, ketika seorang lelaki memegang tangannya, yang ternyata lelaki Bani Laits yang pernah berdakwah di kaumnya. Ia berkata kalau punya kabar gembira buat Ahnaf. Sepulangnya dari mengajak Bani Sa’d untuk memeluk Islam, ia menceritakan pada Nabi SAW apa yang dialaminya, termasuk ucapan Ahnaf. Nabi SAW kemudian mendoakan Ahnaf, agar Allah memberikan ampunan kepadanya.

http://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/ilustrasi-_110727160051-285.jpg

Mendengar cerita lelaki tersebut, Ahnaf langsung berseru gembira, “Tiada aku berharap kepada sesuatu, yang lebih besar daripada harapanku atas doa Rasullullah tersebut.”

Seorang keponakan Ahnaf pernah datang kepadanya dan mengeluhkan musibah yang dialaminya, tetapi Ahnaf tidak memperdulikannya. Tetapi sang keponakan masih saja datang lagi sampai beberapa kali dengan keluhan yang sama.

Melihat perilakunya itu, Ahnaf berkata, “Wahai keponakanku, jika musibah menimpamu, keluhkanlah kepada Dzat yang memiliki jalan pemecahan masalahmu itu, jangan engkau keluhkan kepada mahlukNya. Manusia di hadapanmu ada dua macam, yaitu sahabat yang harus kau santuni, dan musuh yang harus kau caci maki. Wahai keponakanku, lihatlah salah satu matakuini, demi Allah, aku tidak bisa melihat dengannya benda-benda yang kecil ataupun gunung semenjak empat puluh tahun lalu. Dengan keadaan itu, aku tidak bisa melihat istriku dan juga anggota keluargaku.”

Sumber

Minggu, 17 Januari 2016

Dihyah Al-Kalbi dan Penjelmaan Malaikat Jibril

Tidak ada komentar:
DIHYAH al Kalbi RA adalah seorang sahabat yang mempunyai wajah, janggut (jenggot), perawakan dan usia yang menyerupai Malaikat Jibril AS saat berwujud sebagai manusia. Usai perang Khandaq, dimana Nabi SAW dan para sahabat beristirahat, datanglah Malaikat Jibril AS dalam ujud manusia menemui Nabi SAW dan berkata, “Apakah engkau telah meletakkan senjata?Jangan demikian! Para malaikat sama sekali belum meletakkan senjata! Keluarlah engkau menuju Bani Quraizhah, dan perangilah mereka!”

Ketika Nabi SAW melewati Bani Ghanm, penduduk sekitar masjid yang dilewati kalau menuju rumah beliau, beliau bertanya tentang siapa yang baru saja lewat, merekapun berkata, “Telah melewati kami, Dihyah bin Kalbi!”





Dalam riwayat lain disebutkan, saat itu Nabi SAW sedang bersama istri beliau, Ummu Salamah RA, Malaikat Jibril datang kepada Nabi SAW dalam wujud manusia. Setelah Malaikat Jibril berlalu, Nabi SAW bertanya kepada istrinya itu tentang siapa tamu yang baru datang, Ummu Salamah menjawab, “Dia adalah komandan tentara, Dihyah…”

Nabi SAW tersenyum dan menjelaskan bahwa tamu tersebut adalah Malaikat Jibril AS.

Inilah kesaksian tentang kesamaan Dihyah al Kalbi dengan penjelmaan Malaikat Jibril sebagai manusia.

Dihyah al Kalbi RA diutus Nabi SAW untuk menemui Kaisar Romawi, Hiraqla (secara umum dikenal dengan nama Hiraklius) dengan membawa suratNabi SAW tentang ajakan untuk masuk Islam. Surat yang dibacakan di dalam majelis Kaisar Hiraqla, juga dihadiri Abu Sufyan dan teman-temannya yang sedang berdagang di Syam, tidak memperoleh tanggapan positif dari pembesar-pembesar Romawi yang hadir. Sedangkan Hiraqla sendiri melihat adanya kebenaran atas apa yang diserukan Rasulullah SAW, apalagi setelah tanya jawabnya yang panjang lebar dengan Abu Sufyan tentang pribadi dan latar belakang kehidupan Nabi SAW.

Hiraqla memanggil Uskup kotaIliya di Syam, Ibnu Nathur, yang biasanya menjadi rujukan dalam soal keagamaan, dan juga mendatangkan Dihyah al Kalbi dalam pertemuan tersebut. Ibnu Nathur ini di samping sebagai uskup, juga sahabat Hiraqla. Setelah mendengar penjelasan Hiraqla dan juga Dihyah, Ibnu Nathur membacakan beberapa ayat-ayat injil, dan akhirnya membenarkan kenabian Nabi Muhammad SAW dan seketika memeluk Islam. Tetapi Hiraqla sendiri tidak mau mengikuti sikap uskup ini walau sebenarnya kebenaran itu makin menguat di hatinya. Tidak ada lain yang menghalanginya memeluk Islam kecuali takut kehilangan kekuasaannya. Bahkan beberapa panglima perangnya sudah mengancam tidak akan mengakui kedudukannya jika ia memenuhi seruan Nabi SAW.

Dihyah al Kalbi sering menemui sang uskup untuk lebih mengenalkan dan mengajarkan Islam. Pada hari ahadnya, sang uskup tidak hadir untuk memberikan ceramah dan nasihat seperti biasanya, padahal orang-orang Romawi yang menjadi jamaahnya telah berkumpul. Begitupun berulang pada beberapa hari ahad berikutnya, sehingga akhirnya orang-orang Romawi mengancam untuk membunuhnya jika tidak keluar.

Sang uskup, Ibnu Nathur menitipkan suratpada Dihyah untuk Nabi SAW tentang keislamannya, dan menyampaikan pada Nabi apa yang dilihatnya. Setelah itu Ibnu Nathur keluar menemui orang-orang Romawi, tidak dengan pakaian gereja kebesaran seperti biasanya, tetapi memakai pakaian putih. Ia mengucapkan syahadat di hadapan mereka sehingga mereka begitu murka dan akhirnya membunuh sang Uskup yang selama ini dipatuhi dan mereka dengar dan patuhi nasehat-nasehatnya.

Dihyah al Kalbi yang menjadi saksi langsung peristiwa mengenaskan tersebut, menceritakan peristiwa itu kepada Nabi SAW sekaligus menyerahkan surat sang Uskup, Ibnu Nathur untuk beliau. Surat tersebut dibacakan untuk Nabi SAW dan mendoakan kebaikan dan keberkahan untuk Ibnu Nathur.[]

Referensi: 101 Sahabat Nabi/Hepi Andi Bustomi/Pustaka Al-Kautsar

SULTHAN Sulaiman al Qanuni Versi Sejarahwan Muslim dan Orientalis

Tidak ada komentar:
Circa 1545, Suleiman the Magnificent, Sultan of Turkey (1494 – 1566), Ottoman Emperor. Also known as Suleiman the Law Giver. (Photo by Hulton Archive/Getty Images)

Oleh: Fadh Ahmad Arifan*

A. Pendahuluan

Di penghujung akhir tahun 2014, muncul polemik mengenai penayangan serial film King Suleiman di ANTV. Di Negara Turki sendiri, film ini dilarang tayang oleh Erdogan. Sedangkan di Indonesia, film ini teta ditayangkan sejak 22 Desember 2014. Sekilas bila melihat cuplikan thriller nya, kesan yang muncul ialah gambaran Seorang Sulaiman al-Qanuni yang dikelilingi harem tidak berjilbab, berpakaian vulgar yang menonjolkan keseksian belaka. Wajar apabila seorang Ust. Yusuf Mansyur tidak mau tinggal diam. Melalui akun twitternya Ust Yusuf menulis “shalat sunnah hajat 2 rokaat, & doain supaya penayangan film sultan sulaiman di antv segera dicabut”.

Sejumlah petisi juga dibuat pengguna sosial media dan internet (netizen) mendesak penayangan film ini dihentikan. Tak tanggung-tanggung, di laman petisi online, Change.org, sedikitnya 4 petisi dibuat. Tuntutan petisi diantaranya meminta ANTV menghentikan tayangan serial televisi King Suleiman hingga meminta pemerintah untuk menghukum stasiun televisi yang menayangkannya.

Tulisan saya kali ini juga merupakan bentuk “protes” sekaligus pelurusan sejarah. Agar yang membaca menjadi paham siapa sejatinya sosok Sulaiman al-Qanuni. Jangan sampai keluarga dekat saya, termasuk orang tua, sahabat dan teman-teman yang sekiranya masih awam di bidang sejarah; menelan mentah-mentah kisah dalam film tidak bermutu tersebut. Singkatnya, saya tidak ingin mereka punya kesimpulan bahwa seorang pemimpin besar Imperium Turki Usmani suka gonta-ganti perempuan seperti putra Sang fajar yang digelari "Waliyul amri dhoruri bis-syaukah".

B. Perspektif Sejahrawan Muslim

Bila anda membaca buku Sejarah Peradaban Islam dan buku-buku terkait Ottoman studies yang ditulis para sejahrawan Muslim. Sulaiman al-Qanuni ditahbiskan bersama Salim I bin Beyzid (w. 1519M) sebagai khalifah terkuat. Salim I dikenang sebagai khalifah yang menundukkan Shafawiyah (Syiah) yang bersekutu dengan penjajah Portugis menghadapi kaum muslimin.

Sulaiman al-Qanuni dilahirkan di kota Trabzun. Saat itu ayahnya sedang menjadi Gubernur di wilayah tersebut. Beliau naik ke singgasana kekuasaan pada saat baru berusia 26 tahun. Sulaiman ini tipikalnya bukan orang yang terburu-buru dalam semua tindakan dan mengambil keputusan. Bila telah mengambil keputusan, maka beliau tidak akan pernah menarik keputusan yang sudah diambil.

Sulaiman al-Qanuni bukan hanya terkenal di daratan Turki usmani, akan tetapi pada awal abad ke 16 ia adalah Kepala Negara yang paling terkenal di dunia. Dosen UIN Yogyakarta, Dr. M. Abdul Karim menulis, “ia seorang penguasa yang Saleh. Mewajibkan rakyatnya Sholat 5 waktu dan berpuasa di Bulan Romadhon, jika ada  yang melanggar tidak hanya dikenai denda namun juga sangsi badan”. Sulaiman ini juga berhasil menerjemahkan al-Quran ke dalam bahasa Turki.

Satu lagi, pada saat Eropa terjadi pertentangan antara Katolik dan Protestan, non Muslim lari untuk minta suaka politik kepada Khalifah Sulaiman. Mereka diberi kebebasan dalam memilih agama dan diberi tempat di Turki Usmani. Jadi, disaat Katolik Roma dan Protestan mendzalimi pemeluknya, maka Sulaimanlah yang paling adil terhadap rakyatnya meskipun ada yang tidak beragama Islam.

Keberanian seorang Sulaiman al-Qanuni tak perlu diragukan lagi. Beliau terlibat dalam perang-perang besar yang ia pimpin sendiri (diantaranya yang terkenal, Battle of Mohács, 29 Agustus 1526 -red). Tidak mau menyerahkan kepada panglima Perangnya. Kata Buya Hamka, hal itulah yang membuat segan seluruh raja-raja Eropa ketika itu, sampai-sampai raja Perancis Frans I pernah minta bala bantuan kepada Sulaiman.

Sepanjang kepemimpinannya, Sulaiman al-Qanuni menguasai Beograd, semenanjung Krym hingga ibukota Wina, Austria. Beliau juga berhasil menaklukkan Hungaria dan sebagaian besar wilayah-wilayah Arab.

Di zaman Sulaimanlah disusunlah Undang-Undang Turki Usmani (Multaqa al- Abhur). Oleh karena itu beliau di gelari “al Qanuni”.

Begitu juga armada angkatan Laut Turki, Sulaimanlah yang membangunnya. Dibawah pimpinan Laksamana Khairuddin Pasha, yang lebih dikenal dengan Barbarosa (si Janggut Merah). Khairuddin dulunya seorang bajak laut Yunani yang dibawa ayahnya datang mengabdi kepada Khalifah. Keahliannya dibidang kelautan membuatnya dipercaya Khalifah sehingga suatu hari mampu menaklukkan Afrika Utara.

Banyak peninggalan-peninggalan Sulaiman al-Qanuni yang dapat kita kenang. Tahun 1550 M, Sulaiman al-Qanuni mendirikan Masjid baru di Edirne yang dihiasi 4 menara yang tinggi. Masjid itu diberi nama
“Masjid Sulaiman”. Selain masjid Sulaiman, didirikan pula 81 buah Masjid Jami’, 52 buah Masjid kecil, 55 buah Madrasah, 7 buah asrama besar untuk mempelajari al-Quran, 5 buah takiyah (tempat memberi makan fakir miskin), 2 bangunan Rumah sakit, 7 buah Jembatan, 33 buah Istana, 5 buah Museum dan 33 Pemandian umum (hammam). Semua ini diarsiteki oleh Mimar Sinan. Menurut Hamka, Sinan bukan hanya ahli desain bangunan, melainkan juga ahli “khat” yaitu tulisan yang indah-indah yang kerap menjadi hiasan masjid-masjid.

C. Perspektif Orientalis

Sempatkan bermain game “The Age of Empire III”, disitu kita dapati figur Khalifah Sulaiman yang digelari orang Barat dengan “the Magnificent”. Di game tersebut, Sulaiman punya pasukan elit khusus yang bernama “Janissary” atau “Yenicheri”. Menurut Stephen Turnbull, beliau naik ke singgasana kekuasaan ketika berumur 25 Tahun. Sayangnya Turnbull tidak mencantumkan referensi soal umur ini.

Selama 46 tahun pemerintahannya, Sulaiman memperluas imperiumnya di timur Anatolia, Irak, laut merah, hingga Hungaria. Beberapa wilayah ini lebih memberi keuntungan dari segi pertahanan ketimbang ekonomi. Tetapi keseluruhan wilayah yang ditaklukkannya memperkuat status Sulaiman sebagai penguasa salah satu kerjaaan terbesar di kala itu.

Colin Imber juga menulis bahwa di dalam struktur dinasti Ottoman, Sultan dibolehkan menikah sampai empat wanita sekaligus, bahkan Colin menyebut ada aturan yang mengijinkan laki-laki untuk memiliki hubungan seksual dengan budak-budak wanita sebanyak yang ia mampu miliki. Lebih lanjut dia menyebut kebanyakan sultan Ottoman berasal dari ibu budak dan tampuk kepemimpinan hanya diturunkan dari garis laki-laki saja. Colin juga menyinggung masalah keberadaan Harem di dalam istana yang dijaga para Kasim. Harem dapat memegang satu kekuatan politik, tetapi ia tidak terlihat dari dunia luar.

Di pembahasan tentang Harem ini sama sekali tidak membicarakan khalifah Sulaiman yang suka ganti-ganti Harem seperti dalam film King Suleiman.

Sosok Sulaiman al-Qanuni digambarkan dalam buku Colin Imber sebagai seorang Sultan tidak konsisten dengan aturan yang dibuat. Misalnya antara abad 14 dan abad 16 muncul tradisi untuk membatasi satu anak-laki-laki yang lahir dari istri raja. Ketika istri raja telah melahirkan seorang keturunan laki-laki, ia tidak akan pernah lagi tidur bersama raja. Realitanya tahun 1521 M, ketika Sulaiman al-Qanuni mempunyai satu-satunya anak laki-laki bernama Mustafa, yang ibunya merupakan seorang budak yang bernama Mahidrevan. Di Tahun yang sama, Sulaiman dikatakan punya anak laki-laki bernama Mehmed, dari ibu bernama Roxelana. Harusnya menurut aturan di Ottoman, Sulaiman tidak boleh melakukan hubungan seksual lagi bila ada istrinya telah melahirkan anak laki-laki.. Colin menambahkan lagi, sejak zaman Hurrem (seorang selir budak yang dicintai Sulaiman), terjadi perubahan pola struktur kekeluargaan. sangat biasa seorang selir melahirkan lebih dari satu anak.

D. Kesimpulan

Sosok Sulaiman al-Qanuni di buku-buku Sejarah yang ditulis oleh sejahrawan Muslim sama sekali tidak membahas aspek Harem di dalam istana. Mayoritas menguak secara dalam keluhuran akhlak Sulaiman al-Qanuni, kebijakan beliau terhadap pencari suaka hingga peninggalan-peninggalan berharga dalam bentuk monument atau bangunan-bangunan megah. Sedangkan pihak orientalis, mereka fokus pada peperangan yang dimenangkan oleh Sulaiman “the Magnificent”.

Orientalis seperti Colin Imber mencitrakan kepada pembacanya bahwa dinasti Ottoman cenderung memilih melahirkan keturunan dari para Selir budak. Bahkan soerang Sulaiman pun dilukiskan sebagai sultan yang tidak konsisten terhadap tradisi/aturan yang telah dibuatnya. Hemat saya, hendaknya kita sebagai Muslim merujuk pada buku-buku karangan Sejahrawan Muslim. Karena mereka lebih dapat dipercaya dan obyektif.
Wallahu’allam bishowab. 

(Penulis adalah Alumni MAN 3 Malang dan kini Dosen STAI al-Yasini, Kab Pasuruan, Jawa timur) 

*sumber: http://www.academia.edu/9904088/Khalifah_Sulaiman_al-

Kecerdasan Diplomat Islam Al-Baqillani Berdebat Dengan Kaisar Romawi

Tidak ada komentar:

Abu Bakar Muhammad bin ath-Thib bin Muhammad (950-1013 M) yang lebih dikenal dengan al-Baqillani atau Ibnu al-Baqillani diutus ke raja Romawi sebagai diplomat sekaligus pendebat, karena diketahui memiliki kecerdasan, kejeniusan, ketajaman analisis dan keluasan ilmunya.

Alkisah, suatu ketika kaisar Romawi yang juga seorang pastur mendengar kalau al-Baqillani akan bertandang ke istana kekaisaran Romawi. Dia lantas menyuruh para pengawalnya memendekkan pintu masuk ruangan kaisar. Tujuannya agar ketika al-Baqillani hendak memasuki ruangan, dia akan membungkukkan badannya, dan seolah-olah seperti memberi hormat kepada kaisar, agar terhinalah al-Baqillani di hadapan kaisar dan para pengawalnya.

Ketika hendak memasuki ruangan kaisar, al-Baqillani faham kalau ada tipu muslihat kaisar yang hendak memperdaya dirinya agar nampak hina. Seketika, ia segera berbalik arah 180 derajat, dan memasuki ruangan dengan mundur melalui pintu tadi. Dengan demikian, bukan al-Baqillani yang terhina di depan kaisar dan pengawalnya, namun merekalah yang justru dihinakan karena al-Baqillani mengarahkan duburnya ke wajah mereka saat memasuki ruangan melalui pintu yang dipendekkan itu. Melihat ulahnya itu, yakinlah kaisar kalau al-Baqillani memang cerdik lagi pintar.

Setelah memasuki ruangan, al-Baqillani tidak lantas memberi salam islami (karena nabi melarang kita memulai salam kepada ahlul kitab), namun langsung bertanya: "Baaaimana kabar kamu, keluarga, dan anak-anakmu?"

Mendengar itu, kaisar pun murka seraya berkata: "Apa kamu belum tahu bahwa kita (para pastur) tidak menikah, dan tentunya juga tidak berketurunan??!!"

Al-Baqillani lantas berseru: "Allahu Akbar! Kalian sucikan diri dengan tidak menikah dan tidak berketurunan. Namun kalian menuduh Tuhan (menikahi) Maryam, serta merendahkan-Nya dengan memiliki anak?!"

Kaisar pun kian murka. Dengan nada merendahkan ia berseru: "Lantas apa komentar kamu, wahai al-Baqillani, seputar Aisyah si penzina itu?"

Al-Baqillani menjawab: "Demi Allah, Aisyah itu menikah, namun tidak dikaruniai anak. Sedangkan Maryam, dia tidak menikah, tapi punya anak. Lantas, siapakah di antara keduanya yang lebih tepat disebut penzina?!"

Jawaban itu membuat muka kaisar merah padam menahan amarah serta malu. Ingin menunjukkan sikap tenang, kaisar pun mengajak al-Baqillani melanjutkan berdialog:

Kaisar: "Apa nabi kamu berperang?"
Al-Baqillani: "Iya"

Kaisar: "Apa dia juga membunuh dalam pertempuran?"
Al-Baqillani: "Iya"

Kaisar: "Menang dalam perang?"
Al-Baqillani: "Sering menang"

Kaisar: "Pernah mengalami kekalahan perang?"
Al-Baqillani: "Iya"

Kaisar: "Aneh... kok ada nabi kalah perang??!!!"
Al-Baqillani: "Lebih aneh mana dengan tuhan yang disalib??!!"

فَبُهِتَ ٱلَّذِى كَفَرَ‌ۗ

"Maka merasa bingunglah orang kafir..." (QS Al-Baqarah:258)

*berbagai sumber

Rasulullah Mengkafaninya dengan Jubah Beliau

Tidak ada komentar:
SEORANG lelaki dari suatu kabilah Arab datang untuk beriman dan mengikuti Nabi SAW. Ia juga berkata, “Aku akan berhijrah bersamamu!”

Nabi SAW menyerahkan lelaki tersebut pada para sahabat untuk diajari seluk-beluk Islam. Pada perang Khaibar, lelaki ini ikut serta dan diberi tugas untuk memelihara dan merawat unta-unta. Ketika perang berlangsung, beberapa rampasan perang telah didapat, dan Nabi SAW membaginya kepada para sahabat, termasuk lelaki tersebut. Tetapi ketika harta tersebut diantarkan kepadanya oleh seorang sahabat, ia bertanya, “Apakah ini?”

“Bagian dari rampasan perang yang dibagikan Rasulullah SAW untukmu!” Kata sahabat tersebut.




Seketika ia pergi menemui Nabi SAW sambil membawa harta bagiannya tersebut, dan berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku mengikuti engkau bukan karena ini, tetapi aku mengikuti engkau agar aku dipanah disini…”

Lelaki tersebut menunjuk ke arah leher atau kerongkongannya, kemudian ia berkata lagi, “Lalu aku mati dan bisa masuk surga.”
Nabi SAW tersenyum mendengar penuturannya tersebut, kemudian beliau bersabda, “Sekiranya engkau berkata jujur, Allah pasti akan membenarkanmu.”

Lelaki ini bangkit, dan bergabung di barisan depan untuk memerangi kaum Yuhadi yang masih mempertahankan benteng Khaibar. Tidak lama kemudian, beberapa sahabat mendatangi Rasulullah SAW sambil membawa lelaki tersebut yang telah tewas, anak panah menancap di kerongkongannya, tepat di tempat ia menunjuknya. Nabi SAW bertanya, “Dia lelaki itu?”

Para sahabat mengiyakan. Nabi SAW bersabda, “Dia telah jujur kepada Allah sehingga Allah membenarkannya.”

Nabi SAW mengkafaninya dengan jubah beliau, meletakkan di depannya dan dishalatkan. Sebagian dari doa beliau untuk lelaki ini adalah, “Ya Allah, ini adalah hambaMu, ia telah keluar berhijrah di jalanMu, kemudian terbunuh sebagai syahid dan aku sebagai saksi baginya.[]
 
back to top