Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Januari 2016

Sikap Uwais Al Qarni ketika Dilempari Anak-anak Kecil

Tidak ada komentar:

 http://muhamadsafei.com/wp-content/uploads/2015/02/Screenshot_74.jpg

UWAIS AL QARNI adalah lelaki shalih yang suka menyendiri. Tidak terlihat oleh khalayak kecuali satu tahun sekali. Ia mengenakan pakaian lusuh, makan dari memungut sisa-sisa makanan.

Keluarga Uwais Al Qarni telah menganggap dirinya gila sedangkan kerabatnya mencemoohnya dan anak-anak kecil melemparinya dengan bebatuan.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg4IQlUKln_MlXqwF8nFO8MkyRncNtBKq-bZ0gUMCovMtPsJ9QjbDihr798xj5427EPiAWAV-8A1kWc_wItMcvc8jmD7lYrVCUOj-tstVXGFxQe8G-UFpt5tO5-bkG_1ai_oZ1yGWoJeDKe/s1600/kisah+Uwais+al-Qarni-mselim3.jpg

Jika ia berjalan melalui sekumpulan anak kecil yang melemparinya, maka ia mengatakan,”Wahai saudara-saudaraku, jika kalian melempariku, lemparilah aku dengan batu-batu kecil hingga tidak membuat aku berdarah, sehingga ketika datang waktu shalat aku tidak bisa bersuci dengan air.” (Al Kawakib Ad Durriyah, 1/212)

Sumber

Allah Meyakinkanku dengan Kebenaran Cahaya Islam Melalui Mimpi

Tidak ada komentar:

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDQbPT5o44spmPLD35bNRHOQYMHSfcunTTWp8BmvGbs5ZWP_RtlRJ00xw67GpgTJqf22FF6K5Uo4rzRzYuwPH2FDNcptrDtAtdTMxe6L7PZvCFtjb9aeSSqI-MHLkWYNeZVZ17KH6uG4dS/s1600/a-flat-desert-floor-spreads-out-for-miles-under-dark-storm-clouds.jpg

SAYA selalu tertarik mempelajari tentang agama, mungkin ini faktor dari ayah saya yang sangat kental dengan agam. Terlebih agama Buddha. Saya banyak membaca buku-buku agama tapi kebanyakan buku yang saya baca adalah buddhisme karena saya dibesarkan di lingkungan orang-orang yang beragama Buddha.

Saya mempunyai banyak teman-teman muslim. Kami sering berdiskusi mengenai Islam. Sejak saat itulah saya mulai tertari dengan agama Islam karena cerita dari teman-teman saya.

Tetapi pada suatu hari, saya mulai berpikir secara mendalam tentang Islam. Saya banyak melakukan penelitian dengan islam dan membaca buku-buku tentang Islam. Sejak saat itulah saya mulai jatuh cinta dengan Islam.

Menjelang Ramadhan, saya sangat bersemangat untuk memulai hidup baru dengan memeluk agama Islam. Tapi entah mengapa saya masih belum mempunyai keberanian untuk melaksanakan menjadi seorang muslim. Saya merasa belum berubah menjadi yang lebih baik.

Akhirnya saya memutuskan untuk mempelajari agama Buddha dan membandingkannya dengan Islam. Saya melakukan penelitian terhadap agama Buddha, hingga akhirnya saya berada pada titik puncak mengenai pertanyaan “Siapa Tuhan?”

Saya mulai menyadari bahwa ketika keluarga saya beragam Buddha, itu bukan berarti saya pun harus beragama Buddha. Saya merasa sangat kebingungan soal Tuhan dan agama pada saat. Namun teman saya sangat mendukung agar saya memeluk Islam, dan ia membawa saya pada suatu masjid. Saya merasa takut dengan keluarga saya, jika saya masuk Islam maka keluarga saya akan membenci saya.

Pada suatu hari saya bermimpi tentang hari pembalasan. Dalam mimpi tersebut langit begitu gelap, terdapat lubang besar di dalamnya. Suasana yang sangat mencekam. Akhirnya saya terbangun  dan enggan untuk mengingat mimpi tersebut karena sangat menakutkan.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhV-X6JzM_ZQqPbfhYMYQ6MVUMHFrovpJMI0SaEoG-jbrqk878twkK34TniXM7a1FsUl9sdfxCZ_kGJhPWHM8sn9ijV7E6WyV4023kgkoedXyqVW0Z2t9oa-2Qp1xb9z0E7pi5A-EQfuVQ/s1600/right_way.jpg

Keesokkan harinya saya bermimpi kembali mengenai Islam. Dalam mimpi tersebut  saya membaca Quran online yang di layar laptop saya, ditulis dalam bahasa Arab. Saya tidak tahu apa itu dan tiba-tiba saya panik, menutup layar laptop dan melarikan diri. Lalu saya mendengar suara yang tiba-tiba yang berteriak, berkata kepada saya, ”Mengapa dia tidak percaya padaku? Mengapa dia tidak mendengarkan saya? ”

Aku terbangun, tidak bisa menggerakkan tubuh saya selama beberapa detik, berkeringat dan bernapas dalam-dalam. Pada saat ini, saya tahu bahwa mimpi ini benar, dan saya menjadi sangat bersemangat untuk memeluk agama Islam. Saya tahu bahwa Allah sedang mencoba mengatakan sesuatu, seolah-olah Ia sendiri memimpin saya kepada jalan ini. Ketika saatnya tiba, saya merasa gugup dan khawatir tentang hal itu, tapi setelah mengatakan syahadat, saya merasa bahwa saya menjadi orang yang lebih baik, orang yang berbeda, seorang Muslim.

Itu Ramadhan pertama saya setelah masuk Islam,  sangat sulit bagi saya untuk berpuasa dan menghindari haram (melanggar hukum). Kini saya tidak mempunyai keluarga yang mendukung saya tapi saya tahu bahwa Allah berada di samping saya, dan saya akan mencoba yang terbaik untuk tetap menjadi seorang Muslim yang baik. Saya mulai belajar bagaimana  salat  dalam bahasa Arab, melakukan wud’hu (wudhu), menghindari makanan haram, dan bertobat setiap kali saya melakukan dosa kepada Allah.
Terimakasih Ya Allah, engkau telah menunjukan jalan-Mu.

Sumber

Dihyah Al-Kalbi, Orang yang Mirip Dengan Penjelmaan Malaikat Jibril

Tidak ada komentar:

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg0hNeCivdvc6bbb31tG6JwkSj6IBA-INmYb-RCAaG9_YBzEoKwO_5gxKFgZFPSTzj5h5n1zY-RB6mlFt4qmI4dixmYNGjpOuv6aBAIaa_IXuMzsLg2yo9FBW7Bt_2m9okmDF9Fm10boY8/s1600/3063719fDlOqUDh.jpg


DIHYAH al Kalbi RA adalah seorang sahabat yang mempunyai wajah, janggut (jenggot), perawakan dan usia yang menyerupai Malaikat Jibril AS saat berwujud sebagai manusia. Usai perang Khandaq, dimana Nabi SAW dan para sahabat beristirahat, datanglah Malaikat Jibril AS dalam ujud manusia menemui Nabi SAW dan berkata, “Apakah engkau telah meletakkan senjata?Jangan demikian! Para malaikat sama sekali belum meletakkan senjata! Keluarlah engkau menuju Bani Quraizhah, dan perangilah mereka!”

Ketika Nabi SAW melewati Bani Ghanm, penduduk sekitar masjid yang dilewati kalau menuju rumah beliau, beliau bertanya tentang siapa yang baru saja lewat, merekapun berkata, “Telah melewati kami, Dihyah bin Kalbi!”

Dalam riwayat lain disebutkan, saat itu Nabi SAW sedang bersama istri beliau, Ummu Salamah RA, Malaikat Jibril datang kepada Nabi SAW dalam wujud manusia. Setelah Malaikat Jibril berlalu, Nabi SAW bertanya kepada istrinya itu tentang siapa tamu yang baru datang, Ummu Salamah menjawab, “Dia adalah komandan tentara, Dihyah…”

Nabi SAW tersenyum dan menjelaskan bahwa tamu tersebut adalah Malaikat Jibril AS.

Inilah kesaksian tentang kesamaan Dihyah al Kalbi dengan penjelmaan Malaikat Jibril sebagai manusia.
Dihyah al Kalbi RA diutus Nabi SAW untuk menemui Kaisar Romawi, Hiraqla (secara umum dikenal dengan nama Hiraklius) dengan membawa suratNabi SAW tentang ajakan untuk masuk Islam. Surat yang dibacakan di dalam majelis Kaisar Hiraqla, juga dihadiri Abu Sufyan dan teman-temannya yang sedang berdagang di Syam, tidak memperoleh tanggapan positif dari pembesar-pembesar Romawi yang hadir. Sedangkan Hiraqla sendiri melihat adanya kebenaran atas apa yang diserukan Rasulullah SAW, apalagi setelah tanya jawabnya yang panjang lebar dengan Abu Sufyan tentang pribadi dan latar belakang kehidupan Nabi SAW.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghOK_2FkZ_5FEYzbzNLvcRHBhDQL28uew6A5QyerwKzG2hjbCadI7INaiFcoN4ZddYJiI6fhkQrBwct_7Wx4hRfx9cIfWd-D1rO4KRT6tndk2arR3YT_UdS9DcLfqBWPZ-XGTguOOdFP55/s640/61.jpg

Hiraqla memanggil Uskup kotaIliya di Syam, Ibnu Nathur, yang biasanya menjadi rujukan dalam soal keagamaan, dan juga mendatangkan Dihyah al Kalbi dalam pertemuan tersebut. Ibnu Nathur ini di samping sebagai uskup, juga sahabat Hiraqla. Setelah mendengar penjelasan Hiraqla dan juga Dihyah, Ibnu Nathur membacakan beberapa ayat-ayat injil, dan akhirnya membenarkan kenabian Nabi Muhammad SAW dan seketika memeluk Islam. Tetapi Hiraqla sendiri tidak mau mengikuti sikap uskup ini walau sebenarnya kebenaran itu makin menguat di hatinya. Tidak ada lain yang menghalanginya memeluk Islam kecuali takut kehilangan kekuasaannya. Bahkan beberapa panglima perangnya sudah mengancam tidak akan mengakui kedudukannya jika ia memenuhi seruan Nabi SAW.

Dihyah al Kalbi sering menemui sang uskup untuk lebih mengenalkan dan mengajarkan Islam. Pada hari ahadnya, sang uskup tidak hadir untuk memberikan ceramah dan nasihat seperti biasanya, padahal orang-orang Romawi yang menjadi jamaahnya telah berkumpul. Begitupun berulang pada beberapa hari ahad berikutnya, sehingga akhirnya orang-orang Romawi mengancam untuk membunuhnya jika tidak keluar.
Sang uskup, Ibnu Nathur menitipkan suratpada Dihyah untuk Nabi SAW tentang keislamannya, dan menyampaikan pada Nabi apa yang dilihatnya. Setelah itu Ibnu Nathur keluar menemui orang-orang Romawi, tidak dengan pakaian gereja kebesaran seperti biasanya, tetapi memakai pakaian putih. Ia mengucapkan syahadat di hadapan mereka sehingga mereka begitu murka dan akhirnya membunuh sang Uskup yang selama ini dipatuhi dan mereka dengar dan patuhi nasehat-nasehatnya.

Dihyah al Kalbi yang menjadi saksi langsung peristiwa mengenaskan tersebut, menceritakan peristiwa itu kepada Nabi SAW sekaligus menyerahkan surat sang Uskup, Ibnu Nathur untuk beliau. Surat tersebut dibacakan untuk Nabi SAW dan mendoakan kebaikan dan keberkahan untuk Ibnu Nathur.

Sumber

Senin, 18 Januari 2016

Sepenggal Kisah Ahnaf bin Qais, Orang Yang Didoakan Oleh Rasulullah

Tidak ada komentar:

 http://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/ilustrasi-_120620214829-515.jpg

AHNAF bin Qais RA adalah seorang lelaki dari Bani Sa’d. Ketika Nabi SAW mengirimkan seorang lelaki dari Bani Laits untuk mengajak kabilah Bani Sa’d untuk memeluk Islam, ia tidak memperoleh sambutan yang diharapkan, tetapi saat itu Ahnaf bin Qais berkata kepada utusan Nabi SAW tersebut, “Sesungguhnya engkau menyeru kami kepada kebaikan, dan memerintahkan kami untuk melakukan hal itu.Apakah beliau juga menyeru kepada kebaikan?”

Utusan Nabi SAW tersebut membenarkannya, dan Ahnaf-pun akhirnya memeluk Islam, walau mungkin ia hanya sendirian saat itu.

Berlalulah waktu, sampai pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Saat itu Ahnaf sedang thawaf di Baitullah, ketika seorang lelaki memegang tangannya, yang ternyata lelaki Bani Laits yang pernah berdakwah di kaumnya. Ia berkata kalau punya kabar gembira buat Ahnaf. Sepulangnya dari mengajak Bani Sa’d untuk memeluk Islam, ia menceritakan pada Nabi SAW apa yang dialaminya, termasuk ucapan Ahnaf. Nabi SAW kemudian mendoakan Ahnaf, agar Allah memberikan ampunan kepadanya.

http://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/ilustrasi-_110727160051-285.jpg

Mendengar cerita lelaki tersebut, Ahnaf langsung berseru gembira, “Tiada aku berharap kepada sesuatu, yang lebih besar daripada harapanku atas doa Rasullullah tersebut.”

Seorang keponakan Ahnaf pernah datang kepadanya dan mengeluhkan musibah yang dialaminya, tetapi Ahnaf tidak memperdulikannya. Tetapi sang keponakan masih saja datang lagi sampai beberapa kali dengan keluhan yang sama.

Melihat perilakunya itu, Ahnaf berkata, “Wahai keponakanku, jika musibah menimpamu, keluhkanlah kepada Dzat yang memiliki jalan pemecahan masalahmu itu, jangan engkau keluhkan kepada mahlukNya. Manusia di hadapanmu ada dua macam, yaitu sahabat yang harus kau santuni, dan musuh yang harus kau caci maki. Wahai keponakanku, lihatlah salah satu matakuini, demi Allah, aku tidak bisa melihat dengannya benda-benda yang kecil ataupun gunung semenjak empat puluh tahun lalu. Dengan keadaan itu, aku tidak bisa melihat istriku dan juga anggota keluargaku.”

Sumber

Pada Masa Isa Turun Di akhir Zaman, 1 Kali Sujud Setara dengan Dunia dan Seisinya

Tidak ada komentar:

 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEigUGqll1qygfNaHB2knfbg9hJDB6MSopYwpEBV2Eksl1bfy3XQPfYUpENU5HFzSEVcQ6eHmhQl4FSRdrdforK3yHmkkYtzATF-YvStq1PNBzWc23PUwfVuQOWtWuem6-zzVa2xb2KHwVRA/s1600/24.png

PADA akhir zaman, Nabi Isa AS turun ke muka bumi ini. Beliau yang nantinya akan membela kebenaran dan mengarahkan orang-orang yang tersesat untuk kembali ke jalan-Nya. Dan tahukah Anda, akan banyak keajaiban-keajaiban yang terjadi. Bahkan, salah satu anugerah yang akan Allah beri kepada orang-orang di masa itu ialah satu kali sujud yang kita lakukan setara dengan dunia dan seisinya.

Pada masa Nabi Isa AS ini merupakan zaman yang baik, dan ibadah pada masa itu pun yang terbaik. Sebab, pahala ibadah yang berbeda-beda tergantung dari kemuliaan dan kedudukan waktu dan tempatnya.
Abu Hurairah RA meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, Isa ibn Maryam sebentar lagi akan turun kepada kalian sebagai pemimpin yang adil. Ia akan menghancurkan salib, membunuh babi dan menghapus jizyah. Ketika itu harta akan melimpah hingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya, sampai satu sujud pada masa itu lebih baik dari dunia dan seisinya.”

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbIIKJu7cbYxY1jpPOgU-DE-2JzDbn0yJ5y_ZLitIOCdJWcG0UuMLQJdGhD4uYtr6QLPCdUmFO6GpDIqyx0XByGk7MZNjrmaHj85PJQvO6lHnN1xlK1LJXqMe50mS5Nd-_8f7TPoiNMF1z/s1600/beautiful_tree-small.jpg

Abu Hurairah lalu berkata lagi, “Bacalah kalau kalian mau, ‘Tidak ada seorang pun dari ahli kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelu kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka’.” (QS. An-Nisa: 159).

Maksud sabda Rasulullah, “Sampai satu sujud pada masa itu lebih baik dari dunia dan seisinya” adalah bahwa manusia ketika itu gairah mereka untuk melaksanakan shalat dan ibadah lainnya sangat tinggi. Sebab, mereka sudah tak butuh dunia lagi dan tak panjang angan. Mereka juga didorong oleh keyakinan kuat mereka bahwa hari kiamat sudah dekat.

Al-Qadhi Iyadh menjelaskan bahwa pengertian sabda Nabi tersebut adalah bahwa pahala shalat ketika itu lebih baik daripada sedekah dengan dunia seisinya. Sebab, ketika itu harta melimpah ruah, orang kikir sedikit, serta kebutuhan kepada harta untuk diinfakkan sangat sedikit. Sujud di sini adalah sujud itu sendiri, atau bisa juga diartikan sebagai shalat. Wallahu ‘alam.

Sumber

Minggu, 17 Januari 2016

Dihyah Al-Kalbi dan Penjelmaan Malaikat Jibril

Tidak ada komentar:
DIHYAH al Kalbi RA adalah seorang sahabat yang mempunyai wajah, janggut (jenggot), perawakan dan usia yang menyerupai Malaikat Jibril AS saat berwujud sebagai manusia. Usai perang Khandaq, dimana Nabi SAW dan para sahabat beristirahat, datanglah Malaikat Jibril AS dalam ujud manusia menemui Nabi SAW dan berkata, “Apakah engkau telah meletakkan senjata?Jangan demikian! Para malaikat sama sekali belum meletakkan senjata! Keluarlah engkau menuju Bani Quraizhah, dan perangilah mereka!”

Ketika Nabi SAW melewati Bani Ghanm, penduduk sekitar masjid yang dilewati kalau menuju rumah beliau, beliau bertanya tentang siapa yang baru saja lewat, merekapun berkata, “Telah melewati kami, Dihyah bin Kalbi!”





Dalam riwayat lain disebutkan, saat itu Nabi SAW sedang bersama istri beliau, Ummu Salamah RA, Malaikat Jibril datang kepada Nabi SAW dalam wujud manusia. Setelah Malaikat Jibril berlalu, Nabi SAW bertanya kepada istrinya itu tentang siapa tamu yang baru datang, Ummu Salamah menjawab, “Dia adalah komandan tentara, Dihyah…”

Nabi SAW tersenyum dan menjelaskan bahwa tamu tersebut adalah Malaikat Jibril AS.

Inilah kesaksian tentang kesamaan Dihyah al Kalbi dengan penjelmaan Malaikat Jibril sebagai manusia.

Dihyah al Kalbi RA diutus Nabi SAW untuk menemui Kaisar Romawi, Hiraqla (secara umum dikenal dengan nama Hiraklius) dengan membawa suratNabi SAW tentang ajakan untuk masuk Islam. Surat yang dibacakan di dalam majelis Kaisar Hiraqla, juga dihadiri Abu Sufyan dan teman-temannya yang sedang berdagang di Syam, tidak memperoleh tanggapan positif dari pembesar-pembesar Romawi yang hadir. Sedangkan Hiraqla sendiri melihat adanya kebenaran atas apa yang diserukan Rasulullah SAW, apalagi setelah tanya jawabnya yang panjang lebar dengan Abu Sufyan tentang pribadi dan latar belakang kehidupan Nabi SAW.

Hiraqla memanggil Uskup kotaIliya di Syam, Ibnu Nathur, yang biasanya menjadi rujukan dalam soal keagamaan, dan juga mendatangkan Dihyah al Kalbi dalam pertemuan tersebut. Ibnu Nathur ini di samping sebagai uskup, juga sahabat Hiraqla. Setelah mendengar penjelasan Hiraqla dan juga Dihyah, Ibnu Nathur membacakan beberapa ayat-ayat injil, dan akhirnya membenarkan kenabian Nabi Muhammad SAW dan seketika memeluk Islam. Tetapi Hiraqla sendiri tidak mau mengikuti sikap uskup ini walau sebenarnya kebenaran itu makin menguat di hatinya. Tidak ada lain yang menghalanginya memeluk Islam kecuali takut kehilangan kekuasaannya. Bahkan beberapa panglima perangnya sudah mengancam tidak akan mengakui kedudukannya jika ia memenuhi seruan Nabi SAW.

Dihyah al Kalbi sering menemui sang uskup untuk lebih mengenalkan dan mengajarkan Islam. Pada hari ahadnya, sang uskup tidak hadir untuk memberikan ceramah dan nasihat seperti biasanya, padahal orang-orang Romawi yang menjadi jamaahnya telah berkumpul. Begitupun berulang pada beberapa hari ahad berikutnya, sehingga akhirnya orang-orang Romawi mengancam untuk membunuhnya jika tidak keluar.

Sang uskup, Ibnu Nathur menitipkan suratpada Dihyah untuk Nabi SAW tentang keislamannya, dan menyampaikan pada Nabi apa yang dilihatnya. Setelah itu Ibnu Nathur keluar menemui orang-orang Romawi, tidak dengan pakaian gereja kebesaran seperti biasanya, tetapi memakai pakaian putih. Ia mengucapkan syahadat di hadapan mereka sehingga mereka begitu murka dan akhirnya membunuh sang Uskup yang selama ini dipatuhi dan mereka dengar dan patuhi nasehat-nasehatnya.

Dihyah al Kalbi yang menjadi saksi langsung peristiwa mengenaskan tersebut, menceritakan peristiwa itu kepada Nabi SAW sekaligus menyerahkan surat sang Uskup, Ibnu Nathur untuk beliau. Surat tersebut dibacakan untuk Nabi SAW dan mendoakan kebaikan dan keberkahan untuk Ibnu Nathur.[]

Referensi: 101 Sahabat Nabi/Hepi Andi Bustomi/Pustaka Al-Kautsar

Kecerdasan Diplomat Islam Al-Baqillani Berdebat Dengan Kaisar Romawi

Tidak ada komentar:

Abu Bakar Muhammad bin ath-Thib bin Muhammad (950-1013 M) yang lebih dikenal dengan al-Baqillani atau Ibnu al-Baqillani diutus ke raja Romawi sebagai diplomat sekaligus pendebat, karena diketahui memiliki kecerdasan, kejeniusan, ketajaman analisis dan keluasan ilmunya.

Alkisah, suatu ketika kaisar Romawi yang juga seorang pastur mendengar kalau al-Baqillani akan bertandang ke istana kekaisaran Romawi. Dia lantas menyuruh para pengawalnya memendekkan pintu masuk ruangan kaisar. Tujuannya agar ketika al-Baqillani hendak memasuki ruangan, dia akan membungkukkan badannya, dan seolah-olah seperti memberi hormat kepada kaisar, agar terhinalah al-Baqillani di hadapan kaisar dan para pengawalnya.

Ketika hendak memasuki ruangan kaisar, al-Baqillani faham kalau ada tipu muslihat kaisar yang hendak memperdaya dirinya agar nampak hina. Seketika, ia segera berbalik arah 180 derajat, dan memasuki ruangan dengan mundur melalui pintu tadi. Dengan demikian, bukan al-Baqillani yang terhina di depan kaisar dan pengawalnya, namun merekalah yang justru dihinakan karena al-Baqillani mengarahkan duburnya ke wajah mereka saat memasuki ruangan melalui pintu yang dipendekkan itu. Melihat ulahnya itu, yakinlah kaisar kalau al-Baqillani memang cerdik lagi pintar.

Setelah memasuki ruangan, al-Baqillani tidak lantas memberi salam islami (karena nabi melarang kita memulai salam kepada ahlul kitab), namun langsung bertanya: "Baaaimana kabar kamu, keluarga, dan anak-anakmu?"

Mendengar itu, kaisar pun murka seraya berkata: "Apa kamu belum tahu bahwa kita (para pastur) tidak menikah, dan tentunya juga tidak berketurunan??!!"

Al-Baqillani lantas berseru: "Allahu Akbar! Kalian sucikan diri dengan tidak menikah dan tidak berketurunan. Namun kalian menuduh Tuhan (menikahi) Maryam, serta merendahkan-Nya dengan memiliki anak?!"

Kaisar pun kian murka. Dengan nada merendahkan ia berseru: "Lantas apa komentar kamu, wahai al-Baqillani, seputar Aisyah si penzina itu?"

Al-Baqillani menjawab: "Demi Allah, Aisyah itu menikah, namun tidak dikaruniai anak. Sedangkan Maryam, dia tidak menikah, tapi punya anak. Lantas, siapakah di antara keduanya yang lebih tepat disebut penzina?!"

Jawaban itu membuat muka kaisar merah padam menahan amarah serta malu. Ingin menunjukkan sikap tenang, kaisar pun mengajak al-Baqillani melanjutkan berdialog:

Kaisar: "Apa nabi kamu berperang?"
Al-Baqillani: "Iya"

Kaisar: "Apa dia juga membunuh dalam pertempuran?"
Al-Baqillani: "Iya"

Kaisar: "Menang dalam perang?"
Al-Baqillani: "Sering menang"

Kaisar: "Pernah mengalami kekalahan perang?"
Al-Baqillani: "Iya"

Kaisar: "Aneh... kok ada nabi kalah perang??!!!"
Al-Baqillani: "Lebih aneh mana dengan tuhan yang disalib??!!"

فَبُهِتَ ٱلَّذِى كَفَرَ‌ۗ

"Maka merasa bingunglah orang kafir..." (QS Al-Baqarah:258)

*berbagai sumber

Dosen yang Menginjak Al-Quran

Tidak ada komentar:
AL-QURAN sangat dijaga kesuciannya oleh Allah SWT. Barang siapa menghina Al-Qur’an, ia akan diberi pelajaran oleh Allah. Seperti kisah berikut ini.

Dosen: “Saya bingung. Banyak Umat Islam di seluruh dunia lebay. Kenapa harus protes dan demo besar-besaran cuma karena tentara Amerika menginjak, meludahi dan mengencingi Al-Quran? Wong yang dibakar kan cuma kertas, cuma media tempat Qur’an ditulis saja kok. Yang Qur’annya kan ada di Lauh Mahfuzh. Dasar ndeso. Saya kira banyak muslim yang mesti dicerdaskan.”

Meskipun pongah, namun banyak mahasiswa yang setuju dengan pendapat dosen liberal ini. Memang Qur’an kan hakikatnya ada di Lauh Mahfuz.

Tak lama sebuah langkah kaki memecah kesunyian kelas. Sang mahasiswa kreatif mendekati dosen kemudian mengambil diktat kuliah si dosen, dan membaca sedikit sambil sesekali menatap tajam si dosen. Kelas makin hening, para mahasiswa tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.




Mahasiswa: “Wah, saya sangat terkesan dengan hasil analisis bapak yang ada di sini,” ujarnya sambil membolak balik halaman diktat tersebut.

“Hhuuhhh….” semua orang di kelas itu lega karena mengira ada yang tidak beres.

Namun Tiba-tiba sang mahasiswa meludahi, menghempaskan dan kemudian menginjak-injak diktat dosen tersebut. Kelas menjadi heboh.

Semua orang kaget, tak terkecuali si dosen liberal.

Dosen: “Kamu?! Berani melecehkan saya? Kamu tahu apa yang kamu lakukan? Kamu menghina karya ilmiah hasil pemikiran saya? Lancang kamu ya?” Si dosen melayangkan tangannya ke arah kepala sang mahasiswa kreatif, namun ia dengan cekatan menangkis dan menangkap tangan si dosen.

Mahasiswa: “Marah ya, Pak? Saya kan cuma menginjak kertas, Pak. Ilmu dan pikiran yang Bapak punya kan ada di kepala Bapak. Ngapain Bapak marah kalau yang saya injak cuma media buku kok. Wong yang saya injak bukan kepala Bapak. Kayaknya Bapak yang perlu dicerdaskan ya?”

Si dosen merapikan pakaiannya dan segera meninggalkan kelas dengan perasaan malu yang amat sangat. []

Mengenal Syekh Abdur Qadir Jailany, Kenapa banyak yang Agungkannya?

Tidak ada komentar:

Syekh Abdur Qadir Jilany adalah adalah imam yang zuhud dari kalangan sufi. Nama lengkap beliau adalah Abdul Qadir bin Abi Sholih Abdulloh bin Janki Duwast bin Abi Abdillah bin Yahya bin Muhammad bin Daud bin Musa bin Abdillah bin Musa al-Hauzy bin Abdulloh al-mahdh bin Al-Hasan al-mutsanna bin al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib Al-Jailani dinisbahkan ke sebuah tempat di dekat thobristan yaitu Jiil, atau Jilan atau Kilan


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi9bmSIv2uM1okOl1LAUlFLdanSWlWbNpPyPm6go5JSXTwdgEfl8EXBAfpBV2iWS_w87-cQyfS_ZZvwdwXnz7g0wz1J1JrXlrr6Ct_64xBiyTD2-LwDCvzwExpi2_WEvOHJLjml8YZzUB4e/s1600/unnamed+%25283%2529.jpg


Beliau lahir tahun 471 H di Jiilan dan Kemudian di masa mudanya beliau pergi ke Baghdad dan belajar dari al-Qadhy Abi Sa'd al-Mukhorromy. Beliau pun banyak meriwayatkan hadits dari sejumlah ulama pada masa itu di antaranya; Abu Gholib al-Baqillany dan Abu Muhammad Ja'far as-Sirraj.

Syekh 'Izuddin bin Abdissalam mengatakan: "Tidak ada seorangpun yang karamahnya diriwayatkan secara mutawatir kecuali Syekh Abdul Qadir Jiilany." Syekh Nuruddin asy-Syathonufy al-Muqry mengarang sebuah buku yang menjelaskan tentang sirah dan karamah beliau dalam 3 jilid, dalam buku tersebut dikumpulkan semua berita yang berkaitan dengan syekh baik itu berita yang benar, palsu maupun hanya cerita rekaan.




Di antara cerita yang terdapat dalam buku tersebut adalah sebuah kisah yang diriwayatkan dari Musa bin Syekh Abdul Qadir al-Jilany ia berkata: Aku mendengar ayahku bercerita: Pada suatu waktu, ketika aku sedang berada dalam perjalanan di sebuah gurun. Berhari-hari lamanya aku tidak menemukan air, dan aku sangat kehausan. Tiba-tiba ada awan yang melindungiku dan turun darinya setetes air kemudian aku meminumnya dan hilang rasa dahagaku, kemudian aku melihat cahaya terang benderang, tiba-tiba ada suara memanggilku, "Wahai Abdul Qodir, Aku Rabbmu dan Aku telah halalkan segala yang haram kepadamu." Maka Abdul Qodir berkata: "Pergilah wahai engkau Syetan terkutuk." Tiba-tiba berubah menjadi gelap dan berasap, kemudian ada suara yang mengucapkan: "Wahai Abdul Qodir, engkau telah selamat dariku (syetan) dengan amalmu dan fiqihmu." Demikian sedikit kisah tentang Abdul Qodir.

Syekh Abdul Qadir memiliki 49 orang anak, 27 di antaranya adalah laki-laki. Beliaulah yang mendirikan tariqat al-Qadiriyah. Di antara tulisan beliau antara lain kitab Al-Fathu Ar-Rabbani, Al-Ghunyah li Thalibi Thariq Al-Haq dan Futuh Al-Ghaib. Beliau wafat pada tanggal 10 Rabi?ul Akhir tahun 561 H bertepatan dengan 1166 M pada saat usia beliau 90 tahun.

Adapun penyebab kenapa begitu banyak orang di zaman sekarang yang mengagungkan beliau, adalah karena beliau termasuk orang yang sholih dan banyak karomahnya. Hanya saja kebanyakan dari mereka bersikap berlebih-lebihan dalam hal tersebut (al-Ghulu) dan menempatkan beliau di atas derajat para Nabi. Tentunya hal tersebut adalah perbuatan yang dilarang. (Tarikhul Islam Lidz-Dzahaby tahun 561-570 H, Siyar A'lam an-Nubala' 20/439-451) (Galafath)

Nenek itu Kaget, Pria yang Mengetuk Rumahnya adalah Erdogan

Tidak ada komentar:
SIAPA tidak mengenal Erdogan? Sikap sederhana dan kegigihannya menjadi inspirasi bagi setiap orang.

Perlu diketahui, sejak menjadi Walikota Istanbul, Erdogan dikenal sebagai pemimpin yang cinta dan dekat dengan rakyatnya.

Meski hadir sebagai sosok pemimpin muda, Erdogan sangat menghormati orang yang lebih tua darinya. Ia bahkan tidak ragu-ragu untuk mencium tangan orang tua dan menyalami orang yang bertemu degannya.

Seperti ditulis Syarif Thagian dalam bukunya, Erdogan: Muadzin Istanbul Penakluk Sekularisme Turki, kebiasaan Erdogan untuk dekat dengan rakyatnya sudah muncul sejak dirinya menjadi Walikota Istanbul Raya hingga menjadi perdana menteri di bulan Maret 2003. Salah satu kebiasaan itu adalah selalu berbuka puasa selama Ramadhan bersama keluarga fakir miskin ditemani istrinya Emine. Dia juga berbagai makanan kepada orang miskin dan terlihat akrab dengan mereka.

Tentang kebiasaan Erdogan yang satu ini, media Turki telah banyak mengungkapkannya. Dalam edisi 25 Agustus 2009, sebuah media Turki menceritakan kisah Erdogan menemui seorag nenek.

Bersamaan dengan adzan maghrib, Erdogan mengetuk pintu rumah seorang nenek bernama Aisyah Oljum. Ia tinggal di desa Baglijar daerah Ankara ibukota Turki.

Nenek tersebut tidak percaya dan mengusap kedua matanya, ketika melihat sesosok pria mengetuk pintunya. Betapa kaget sang nenek ketika orang yang menghampiri rumahnya adalah Erdogan.



Erdogan menerima seorang nenek tua asal Turki yang berada di kompleks Masjid Nabawi, lantas mencium tangannya, layaknya seorang anak bertemu ibundanya.
 
 

Pemimpin bersahaja itu datang untuk berbuka puasa di rumahnya dan menanyakan tentang keadaannya.

Setelah Erdogan berbuka puasa, dia bertanya keadaan nenek itu, apa yang dibutuhkannya, baik berupa materi atau bantuan lain.

Erdogan juga mengunjungi tiga rumah di sekitar rumah nenek tersebut. Ketika mengunjungi salah satu dari ketiga rumah tersebut, masuklah Walikota yang bernama Bektas dan duduk.

Kemudian Erdogan berkata kepada Walikota tersebut, “Aku meminta sesuatu kepadamu malam ini,” maka walikota pun menjawab, “Silahkan yang mulia.”

Lalu Erdogan mengulurkan tangannya dan memasukannya ke dalam saku walikota.  Dia menemukan sebungkus rokok seraya berkata, “Kamu tinggalkan rokok ini mulai sekarang.”

Walikota itupun kaget karena dia harus menerima permintaan Erdogan. Walikota pun meminta agar bungkus ini menjadi bungkus terakhir yang dihisapnya.  Akan tetapi Erdogan menolak dan tetap memegang bungkus rokok tersebut,  lalu menulis nama walikota,  tanggal dan membubuhkan tanda tangan di bungkus rokok tersebut.

Lalu memberikan rokok tersebut kepada kepala kantor, dan memintanya untuk menyimpan bungkus rokok tersebut di Museum Kemasan Rokok untuk koleksi. Begitulah Erdogan berdakwah kepada orang di sekelilingnya.

Dari hari ke hari Erdogan merasa bahwa dirinya adalah milik rakyat bukan elit politik yang tinggal di menara gading,  yang hanya mementingkan organisasi dan berbicara tentang hal-hal yang tidak dipahami masyarakat.

Ia menjadi lebih dekat dengan rakyat.  Sejak tahun 2006 rakyat bebas berbicara dengan perdana menteri melalui telpon bebas pulsa untuk mengajukan saran dan keluhan.

Kelak, ketika menjadi Presiden kecintaan Erdogan tidak hanya ia curahkan kepada warga Turki, tapi juga warga Rohingya, Gaza, Mesir, hingga Suriah! [Pz/Islampos]

Rasulullah Mengkafaninya dengan Jubah Beliau

Tidak ada komentar:
SEORANG lelaki dari suatu kabilah Arab datang untuk beriman dan mengikuti Nabi SAW. Ia juga berkata, “Aku akan berhijrah bersamamu!”

Nabi SAW menyerahkan lelaki tersebut pada para sahabat untuk diajari seluk-beluk Islam. Pada perang Khaibar, lelaki ini ikut serta dan diberi tugas untuk memelihara dan merawat unta-unta. Ketika perang berlangsung, beberapa rampasan perang telah didapat, dan Nabi SAW membaginya kepada para sahabat, termasuk lelaki tersebut. Tetapi ketika harta tersebut diantarkan kepadanya oleh seorang sahabat, ia bertanya, “Apakah ini?”

“Bagian dari rampasan perang yang dibagikan Rasulullah SAW untukmu!” Kata sahabat tersebut.




Seketika ia pergi menemui Nabi SAW sambil membawa harta bagiannya tersebut, dan berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku mengikuti engkau bukan karena ini, tetapi aku mengikuti engkau agar aku dipanah disini…”

Lelaki tersebut menunjuk ke arah leher atau kerongkongannya, kemudian ia berkata lagi, “Lalu aku mati dan bisa masuk surga.”
Nabi SAW tersenyum mendengar penuturannya tersebut, kemudian beliau bersabda, “Sekiranya engkau berkata jujur, Allah pasti akan membenarkanmu.”

Lelaki ini bangkit, dan bergabung di barisan depan untuk memerangi kaum Yuhadi yang masih mempertahankan benteng Khaibar. Tidak lama kemudian, beberapa sahabat mendatangi Rasulullah SAW sambil membawa lelaki tersebut yang telah tewas, anak panah menancap di kerongkongannya, tepat di tempat ia menunjuknya. Nabi SAW bertanya, “Dia lelaki itu?”

Para sahabat mengiyakan. Nabi SAW bersabda, “Dia telah jujur kepada Allah sehingga Allah membenarkannya.”

Nabi SAW mengkafaninya dengan jubah beliau, meletakkan di depannya dan dishalatkan. Sebagian dari doa beliau untuk lelaki ini adalah, “Ya Allah, ini adalah hambaMu, ia telah keluar berhijrah di jalanMu, kemudian terbunuh sebagai syahid dan aku sebagai saksi baginya.[]

Sabtu, 16 Januari 2016

Kulepaskan Jilbab Ini Demi ...

Tidak ada komentar:
Oleh: Newisha Alifa

SATU pesan BBM masuk. Dari seorang junior waktu sekolah yang juga pernah sama-sama bekerja di kantor lama kami.





“Kak, aku diterima jadi resepsionis di salah satu PT di kawasan XXX.”

Aku pun segera mengetik balasan, “Ohya? Wahh … Alhamdulillah yaa, Mel! Selamat!”

“Tapi Kak ….”

“Tapi apa?”

“Aku harus lepas jilbab.”

Hatiku seketika bergemuruh.

Bagaimana mungkin Amel (bukan nama sebenarnya) bisa goyah begini. Gadis cantik yang belum lama menggunakan hijab itu kan tahu sendiri, bagaimana reaksi orang-orang di kantor keempatku, waktu ada salah satu karyawatinya yang melepas jilbab. Ternyata setelah ditelusuri penyebabnya, tak lain karena dia nekat berpacaran dengan pria non muslim. Sudah pacaran … dengan non muslim pula. Belum nikah saja, jilbab sudah ditanggalkan. Bagaimana kalau sudah menikah? Masihkah iman Islam terpatri dalam hati?

“Astaghfirullah, Mel. Jangan,” ketikku mengingatkan.

“Tapi, Kak. Aku butuh pekerjaan. Kakak kan tahu, aku harus ngebiayain kuliah sendiri.”

“Iya, aku tahu, Mel. Tapi apa kamu gak percaya, Allah lah Yang Maha Pemberi rezeki?”

“Percaya, Kak. Tapi aku bener-bener buntu, Kak. Aku harus dapet pekerjaan secepatnya.”

“Loh, waktu di sini, kamu mau diperpanjang kontraknya dan boleh berjilbab, kamu gak mau.”

“Iya Kak. Tapi kalo di situ aku udah nggak betah. Orang-orangnya rese. Kakak sendiri kan juga mau resign dari situ?” Amel kembali menyanggah.

“Iya, Mel. Aku tahu. Tapi, setidaknya di sini kamu boleh berjilbab. Walaupun di sini gajinya di bawah UMR, setidaknya kita nggak disuruh lepas jilbab.”

“Iya sih, Kak.”

“Pikirin lagi semuanya baik-baik, Mel. Istikharah. Belum tentu juga nanti di sana kamu betah.”

“Aku kayaknya nggak ada pilihan lain deh, Kak. Aku sudah tanda tangan kontrak. Senin depan aku mulai kerja. Tapi di luar PT, aku tetap berjilbab kok, Kak.”

“Kenapa kamu baru bilang setelah tanda tangan kontrak? Ya Allah, andai aku punya cukup uang buat minjemin kamu bayar biaya kuliah, Mel. Sedih aku. Ngerasa nggak guna jadi temen.” Aku mengetik pesan dengan hati yang runyam.

Ketika melihat teman baru berhijab, aku bahagia bukan kepalang. Begitu juga sebaliknya, ketika mengetahui seseorang harus membuka hijabnya. Aku seketika lemas. Merasa gagal. Berlebihan? Yaa … tapi sungguh itu yang kurasakan.

#

Kalian tahu apa yang terjadi bahkan tak sampai sebulan kemudian? Amel kembali mengirim pesan padaku.

“Kak! Kakak benar. Aku gak betah di sini, Kak!”

“Ya Allah, Mel … kenapa??”

“Kerjaanku di sini ternyata nggak cuma jadi resepsionis, Kak. Tapi serabutan, bantuin kerjaan bagian lain juga. Belum lagi, tiap hari lobby tempatku bekerja bau asap dupa. Di sini juga ada beberapa patung yang dikramatkan, Kak.”

“Dikramatkan gimana?”

“Iya. Patung-patung itu dirawat khusus, Kak. Nggak boleh sampai kenapa-kenapa. Semacam sesuatu yang sangat penting buat yang punya PT.”


“Astaghfirullah. Terus gimana, Mel?”

“Belum tahu, Kak. Aku coba bertahan. Tapi kalau nggak kuat, mungkin aku akan resign.”

“Loh, bukannya kamu udah tanda tangan kontrak selama beberapa bulan ke depan? Memangnya di sana nggak ada pinalti?” tanyaku lagi.

“Ada sih, Kak.”

“Lahhh, terus? Duitnya gimana?”

“Aku kabur aja nanti, Kak. Biar nggak usah bayar uang pinalti, karena keluar sebelum kontrak selesai.”

“Ya Allah, Amel ….”

“Huhuhu … aku nyesel, Kak. Coba aja aku ikutin apa kata Kakak waktu itu.”

#

Entah bagaimana caranya, berita terakhir yang kudapatkan akhirnya Amel keluar dari PT itu. Dan Alhamdulillah, saat ini dia sudah berjilbab kembali, bahkan lebih syar’i.

“Kali ini semoga istiqomah yaa, Mel. Belajar dari pengalaman kemarin.” Aku mengirim pesan, usai mengetahui bahwa ia kembali berhijab.

“Iya, Kak. In Syaa Allah. Aku nggak akan sampai lepas jilbab lagi! Doain aku ya, Kak.”

“As always, Dear. Kita saling mendoakan yaa ….”

“Iya Kaaak.”

Ohya!
Temanku yang satu lagi juga Alhamdulillah sudah putus dengan pacarnya. Dan kini ia pun berhijab kembali. Doakan kami semua istiqomah yaa. Aamiin Yaa Robbal Alamiin.

#

Aku pun pernah sampai melepas jilbab, saat pertama kali bekerja usai lulus SMK, pada tahun 2007. Menyesal bukan main. Karena perlakuan para lelaki ketika melihatku dengan dan tanpa hijab, itu berbeda sekali. Padahal saat itu aku masih memakai penutup kepala. Hanya saja leher dan tangan dari sikut ke bawah, kelihatan keman-mana.

Alhamdulillah. Setahun kemudian, usahaku mencari pekerjaan lain, akhirnya membuahkan hasil. Aku diterima di sebuah perusahaan yang membolehkan semua karyawatinya untuk berhijab.

Untuk selanjutnya, di perusahaan ketiga, keempat dan kelima yang tak lain adalah tempatku bekerja sekarang, Alhamdulillah! Aku bebas menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslimah, yakni menutup aurat.

#

Tiga kali, ada pengalaman interview dengan orang asing. Satu bule, orang Korea, dan yang ketiga orang Jepang. Tentu perasaan ketar-ketir karena aku menolak berjabat tangan dengan mereka. Yang sama orang Korea, tidak ada kelanjutan alias ditolak bekerja di sana. Yang sama bule, juga Alhamdulillah sempat diberi tahu diterima, cuma aku yang mundur, karena lokasi kerja yang ditawarkan di Meruya. Terlalu jauh, bagiku yang tinggal di Bekasi.

Yang orang Jepang ini lucu. Namanya Mr. Hiroyuki. Pada suatu kesempatan makan malam bersama teman sebagian yang lain, seorang teman yang tidak berjilbab mendekati beliau untuk difoto. Spontan, Hiroyuki-san berkata sambil memeragakan ‘jilbab’ dengan kedua tangannya.

“Woman with … no touch yaa? Kalau tidak pakai, boleh touch.” Beliau bingung menyebut jilbab itu apa, makanya hanya memeragakan dengan menyatukan kedua tangannya, yang kemudian dinaikkan ke atas kepala.

Kami tertawa. Maksud beliau adalah : perempuan dengan penutup kepala tidak boleh disentuh ya? Kalau tidak pakai, baru boleh.

See? Orang asing yang bukan muslim pun bahkan bisa menyimpulkan demikian.

Eits!
Ini bukan berarti kalian boleh touch touch wanita tanpa hijabbbbb yaaahhh! Awas lohhhh! Bukan mahrooooom!

#

Pertahankan hijabmu semampumu, saudariku.
Ingat! Bahkan ada suatu informasi bahwa : perempuan-perempuan di Gaza tidur pun menggunakan hijabnya. Ketika ditanya kenapa, jawaban mereka, “Agar jika sewaktu-waktu rumahku dibom, jasadku dapat ditemukan dalam keadaan menutup aurat.”

Ma Syaa Allah!

Semoga kita semua bisa senantiasa menjaga hijab ini hingga kematian menjemput kita kelak. Aamiin Yaa Robbal Alamiin.

[ Kisah Nyata] Sedekah ‘Rutin’ Tukang Becak Setiap Hari Jum’at

Tidak ada komentar:
Ada seorang tukang becak, yang sudah cukup sepuh (tua), beliau tinggal di daerah Dinoyo (Malang, Jatim).

Setiap hari Jum’at, ia menggratiskan tarif becaknya, dengan niat shodaqoh..

Suatu kali, pada hari Jum’at, ada seorang pria bapak-bapak yang jadi penumpangnya.
 

Pria itu naik becak jarak dekat saja, tanpa tawar-menawar, pria itu membayar tarif becak yang di tumpanginya dengan uang 20ribu, tetapi langsung ditolak sama bapak tukang becak, beliau bilang :

“Kulo ikhlas Pak, pun usah dibayar, kula sagete shodaqoh nggeh ngeten niki..”

“(Saya ikhlas Pak, sudah jangan dibayar, saya cuma bisa shadaqoh dengan cara seperti ini..).”

Si penumpang pun kaget, tapi karena terburu-buru, Pria itu langsung pergi begitu saja, setelah mengucapkan terima-kasih.

Pekan berikutnya, pada hari jumat pula, Pria itu bertemu lagi dengan tukang becak yang sama pada Jum’at lalu.

Setelah diantar ke tempat tujuan, Pria itu menyodorkan uang 200ribu, atau 10x lipat dari shodaqoh tukang becak kepada pria ini Jum’at lalu, untuk tarif becaknya.

Tukang becak yang sudah sepuh ini pun menjawab dengan tenang :

“Insyaallah.. Kulo ikhlas pak..
Kulo sagete shodaqoh nggih namung ngeten niki,, ngateraken tiyang.”

“(Insyaallah.. Saya ikhlas Pak..
Saya cuma bisa shadaqoh dengan cara seperti ini,, mengantarkan orang..).”

Karena merasa aneh, Pria yang menumpang itu menimpali :

“Lha kalau begini terus, Istri, dan Anak bapak makan apa.!? Kenapa nggak mau dibayar..?!”

Tukang becak itu pun menjawab :

“Alhamdulillah, Rayat kulo nggih sami ikhlas menawi saben Jum’at kula shodaqoh ngeten niki..”.

“(Alhamdulillah, Istri saya pun sama-sama ikhlas jika tiap hari Jum’at saya bershodaqoh dengan cara ini..)”

“Oh,, jadi Bapak nggak mau di bayar pada hari Jum’at saja..!?” Tanya si penumpang memastikan.

“Nggeh, Pak”

“Rumah bapak dimana?” Tanya penumpang penasaran..

“Wonten Dinoyo Pak, wingkingipun bank..”.

“(Tinggal di Dinoyo Pak, sebelah belakang bank..)”

Hari pun berlalu, dan di hari Jum’at berikutnya, Pria penumpang becak yang penasaran ini mencari rumah Tukang becak itu.

Setelah menyusuri gang sempit sebelah gedung bank di daerah dinoyo, akhirnya Pria itu ketemu juga dengan rumah sederhana milik Tukang becak yang di carinya.

Setelah mengetuk pintu, keluarlah seorang wanita yang sudah tua, masih menggunakan mukena.

Hatinya tergetar…
batinnya menangis..
betapa selama ini, ia yang sangat di cukupi kebutuhannya oleh Allah s.w.t, malah jarang bersimpuh kepada-Nya.

Jangankan sedekah, dan sholat dhuha, sholat wajib saja masih sering ia tinggalkan..

Ia pun mencium tangan wanita tua itu, lalu meminta idzin untuk meminjam KTP bapak, dan ibu sekalian.

“Bapak tasik siap-siap badhe sholat Jum’at, niki KTP-ne damel nopo nggeh..!!?”

“(Bapak masih melakukan persiapan untuk sholat Jum’at, ini KTP nya, kalau boleh tau buat apa ya..!?)

“Bu, bapak, dan juga ibu telah membuka mata hati saya, ini jalan hidayah yang telah Allah s.w.t anugerahkan kepada saya.

Insyaallah, Bapak, dan Ibu saya daftarkan untuk naik haji ONH Plus bersama saya, dan istri, mohon di terima ya, Bu..”

==============

Masya Allah..
sungguh maha pemurah Allah s.w.t yang membalas kebaikan-kebaikan kecil, dengan kebaikan-kebaikan yang lebih besar.

==============

Jika menurut Anda kisah nyata ini bermanfaat, maka jangan biarkan sedikit pengetahuan yang insyaallah mengandung hikmah ini hanya dibaca disini saja, bagikan kisah ini di facebook Anda dengan Klik SHARE/BAGIKAN.

SEMOGA BERMANFA’AT. [Kisah ini berdasarkan kisah nyata yang dituliskan di akun Facebook Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami]


 
back to top